Close
 
Kamis, 18 Desember 2014   |   Jum'ah, 25 Shafar 1436 H
Pengunjung Online : 1.091
Hari ini : 6.558
Kemarin : 17.356
Minggu kemarin : 186.674
Bulan kemarin : 631.927
Anda pengunjung ke 97.468.665
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

20 agustus 2008 04:49

Sejarah dan Adat Nias di Sumbar Diseminarkan

Sejarah dan Adat Nias di Sumbar Diseminarkan

Padang, Sumatra Barat- Seminar mengupas “Sejarah dan Adat Nias di Sumatera Barat” digelar hari ini, Selasa (19/8) di Gedung E Kampus Unand. Sejumlah pakar budaya, hukum dan Pakar Sejarah diundang menjadi narasumber. “Kegiatan seminar masuk dalam rangkaian Seabad Kebangkitan Nasional dan  hari jadi Indonesia ke 63,” kata Ketua Pelaksana Dr Anatona Gulo MHum, di ruang kerjanya kemarin.

Dikatakan, seminar yang mengambil tema masyarakat Nias itu baru pertama kali dilaksanakan di Unand. Padahal, menurutnya, masyarakat Nias telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sumbar khususnya Kota Padang. Diperkirakan, Rombongan warga Nias mulai masuk Kota Padang sejak tiga abad silam.

Mereka dibawa oleh Kongsi Dagang (VOC) Belanda sebagai buruh kasar yang bekerja di pelabuhan dan pabrik. Secara bergiliran, narasumber mengambil sudut kupasan berbeda tentang masyarakat Nias tersebut. Di antaranya ada Bachtiar Abana SH MH yang bicara hukum adat.

Anggota Keluarga Penghulu Nias Sungai Buluah, Toni Zebua dan Ketua Lembaga Kerapatan Adat Nias (LEKANIS) Tawanta Lawolo juga hadir sebagai narasumber dalam seminar yang bakal dihadiri Ketua Ninik Mamak Delapan Suku, Anggota Padang Forum dan Mahasiswa itu.

“Kita harapkan seminar ini bisa memberikan masukan dari akademisi kepada pemangku Adat Nias di Sumbar yang tengah melaksanakan revisi hukum adat mereka. Selain itu studi tentang Suku Nias perlu kita giatkan karena masyarakat Nias bagian dari perjalanan sejarah Sumbar dan Kota Padang,” papar Anatona yang juga bertindak sebagai narasumber dalam seminar yang digagas LPM Unand dan LEKASI Sumbar itu.

Anatona yang juga Anggota Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) itu menambahkan perlu adanya perhatian pemerintah terhadap masyarakat Nias tersebut. “Warga Nias punya budaya merantau, sama juga dengan orang Sumatera Barat. Lebih dari itu banyak kesenian dan penamaan daerah berasal dari bahasa Nias,” tandas Anatona yang juga Dosen Ilmu Sejarah Unand. Hasil seminar oleh panitia bakal dijadikan sebuah buku tentang masyarakat Nias. (u)

Sumber : www.posmetropadang.com (19 Agustus 2008)
Kredit foto : www.gutenberg.org


Dibaca : 5.218 kali.

Tuliskan komentar Anda !