Close
 
Kamis, 23 Oktober 2014   |   Jum'ah, 28 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.770
Hari ini : 11.627
Kemarin : 23.762
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.261.497
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

06 november 2008 06:43

Melestarikan Pantun Melalui Pendidikan

Melestarikan Pantun Melalui Pendidikan

Yogyakarta, MelayuOnline.com- Pantun merupakan hasil kebudayaan Melayu dan sekaligus media orang-orang Melayu untuk mengkonstruksi dan mereproduksi kebudayaannya. Ia merefleksikan kehidupan masyarakat Melayu, baik dari segi pemikiran maupun nilai-nilai moralnya. Pantun menjadi sumber untuk menimba dan menambah ilmu, mengetahui dan mengkaji adat istiadat, menyampaikan dan mengingatkan petuah-amanah, mengangkat tuah Melayu, mengajar hukum dan syarak, memperbaiki laku-perangai, mengisi mana yang kurang, dan tempat mencari suluh.

HM Ali Achmad (AA), seorang maestro pantun dari Tanjungpinang Kepulauan Riau, menjelaskan tentang fungsi dan perlunya melestarikan pantun kepada Hadi Kurniawan, S.H.I (Pelaksana Harian Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu [BKPBM]), Yuhastina Sinaro (Humas BKPBM), dan Ahmad Salehudin (Redaktur Budaya MelayuOnline.com[MelOn]), pada hari Senin, 27 Oktober 2008 di Ruang pertemuan BKPBM Jl. Gambiran 85 A Yogyakarta. Berikut ini bagian dari pembicaraan tersebut:

MelOn: Apa fungsi pantun bagi orang Melayu?

AA: Pantun Melayu merupakan khazanah sastra lama Melayu yang perlu dilestarikan, ditumbuhkembangkan, serta perlu disalurkan kepada generasi mendatang agar tidak punah. Hal tersebut harus dilakukan karena pantun sebagai khazanah sastra Melayu mengandung unsur-unsur pendidikan. Dalam arti kata, dalam pantun ada unsur nasehat, ada wawasan budaya yang luas, kemudian ada “keharusan” agar yang berpantun bisa menyusun kata-kata yang baik dan tidak menyinggung perasaan orang. Dengan pantun, seseorang dapat mengutarakan pendapatnya tanpa menyinggung perasaan orang lain. Orang yang dikritik dengan pantun akan tahu kalau ia sedang dikritik, tetapi ia tidak akan merasa tersinggung.

Pantun dalam sastra Melayu merupakan suatu ajang dalam mengemukakan suatu pendapat. Kalau suatu pendapat dikias dengan pantun, maka orang tidak akan menanggapinya dengan emosional. Karena orang akan berpikir bunyi pantunnya bagus, dan himbauan yang dikandungnya juga bagus, sehingga tidak akan ada argumen yang terlalu emosional. Bila dalam suatu rapat kerja atau meeting suasana sudah mulai panas, biasanya argumentasi akan semakin keras, maka jika ada salah seorang yang berpantun, maka suasana akan berubah.

Oleh karenanya, warisan sastra Melayu lama ini perlu kita lestarikan terus, supaya ia tidak punah sebagai khazanah budaya orang Melayu. Seperti BKPBM yang mengembangkan khazanah budaya Melayu, tentu tujuannya agar khazanah Melayu tersebut tidak punah. Upaya pelestarian pantun yang dilakukan oleh para ahli pantun di Tanjungpinang telah menjadikan daerah tersebut mendapat apresiasi dari Departemen Kebudayaan, Seni dan Pariwisata Republik Indonesia sebagai kota gurindam negeri pantun. Selain itu, Tanjungpinang juga berhasil memecahkan rekor pembacaan pantun terlama dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Keberadaan pantun sangat penting bagi masyarakat Melayu, dan oleh karenanya perlu dilestarikan, misalnya pejabat pemerintah kota berpantun saat membuka suatu acara.

Demikian juga yang dilakukan oleh BKPBM. Upaya BKPBM untuk mendokumentasikan dan mempublikasikan selaksa pantun Melayu melalui portal MelayuOnline.com merupakan upaya yang sangat bagus untuk melestarikan dan menyebarkan pantun Melayu. Dengan cara ini, masyarakat luar juga akan mengetahui dan mengenal pantun Melayu.

MelOn: Berbagai kajian terhadap pantun menunjukkan bahwa pantun mempunyai fungsi yang cukup vital dalam sejarah perkembangan Melayu, tapi akhir-akhir ini pantun hanya dianggap sekedar basa-basi saja. Bagaimana menurut Bapak?

AA: Justru karena itulah kita harus membangkitkan kembali pantun. Ketika Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Ir. Jero Wacik, menganugerahkan gelar Maestro Pantun kepada saya, beliau bertanya, ”Apa misi Pak Ali melestarikan pantun?” ya saya jawab, ”Sebagai masyarakat awam, saya hanya mempunyai satu tujuan, yaitu ingin melestarikan pantun, dan memantunkan masyarakat seluruh Indonesia ini. Dalam arti kata masyarakat bisa berpantun, pantun masuk ke dalam masyarakat.

Bagaimana memasukkan pantun ke dalam masyarakat? Dalam pendidikan misalnya, guru jangan terkungkung hanya dengan buku-buku pelajaran, tapi coba selingi dengan pantun. Ketika anak-anak sudah lelah belajar, khususnya ketika siang hari, dengan diselingi pantun, maka gairah anak-anak untuk belajar akan bangkit kembali. Oleh karenanya, seorang guru harus bisa berpantun. Dalam ruang perkuliahan juga demikian, seorang  dosen, walaupun bukan orang Melayu, harus pandai berpantun. Karena jika tiada orang berpantun, majlis akan menjadi senyap.

MelOn: Melalui sampiran pantun, kita bisa melihat pemahaman orang Melayu terhadap alamnya. Bagaimana Bapak melihat perubahan alam Melayu terhadap bentuk sampiran pantun?


AA: Untuk menjawabnya, saya akan memberikan satu contoh pantun. Dalam buku saya, Kiat Cepat Membuat Pantun, saya menuliskan beberapa contoh pantun yang sampirannya berasal dari alam yang ada di sekitar kita. Riau Kepulauan, misalnya, alamnya terdiri dari lautan, jadi kita ambil sampiran pantun dari barang-barang yang terdapat di laut. Misalnya pantun untuk muda-mudi.

Ondok-ondok di daun setu
Anak ketam di dalam lumpur
Olok-olok seolah tak rindu
Mata dipejam tak bisa tidur.

Penggunaan sampiran berupa ondok-ondok (kuda laut), pohon setu (pohon seperti rumput laut yang panjang), ketam (kepiting), dan lumpur secara jelas merupakan benda-benda alam yang terdapat di Riau Kepulauan.

Olok-olok tanda tak rindu, padahal sebenarnya ia rindu. Ia bilang apa pula rindu-rindu, tapi mata dipejam tak bisa tidur. Pantun ini secara jelas mengatakan bahwa seorang muda-mudi pura-pura (olok-olok) tidak rindu, tetapi mata dipejam tidak bisa tidur.

Contoh lain,

Kapal baru temberam baru
Baru sekali masuk Malaka
Abang baru adikpun baru
Baru sekali bertemu muka

Coba Anda rasakan, betapa mesranya mengungkapkan pertemuan pertama dengan menggunakan pantun. Terhadap orang yang demikian, kita mungkin berpendapat, ”Wah orang ini sangat ramah”. Pantun membawa orang pada sifat humor dan toleran. Dengan pantun, orang bisa semakin ramah dan akrab. Tidak terasa, kita telah menjadi sangat akrab dengan lawan bicara kita, walaupun baru kali pertama berjumpa.

MelOn: Dalam sejarahnya, pantun begitu penting dalam kehidupan sosial masyarakat Melayu, tapi saat ini nampaknya pantun telah kehilangan ruhnya. Menurut Bapak, apa yang harus dilakukan untuk mengembalikan ruh pantun, sehingga pantun tidak sekedar dibaca tetapi ada nilai-nilai yang dapat dicerap?

AA: Menurut hemat saya, salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghidupkan ruh pantun adalah melalui pendidikan, baik formal maupun non formal. Di sekolah-sekolah harus ada muatan lokal yang mengajarkan pantun. Sebab jika diajarkan di sekolah, maka ketika anak-anak tersebut pulang ke rumah, mereka akan mengenalkan pantun kepada keluarganya masing-masing. Jadilah keluarga di rumah tersebut menjadi keluarga yang mengenal pantun. Mungkin saja pada suatu saat nanti, salah satu dari anggota keluarga tersebut ada yang berprestasi dalam berpantun sehingga mampu membawakan pantun ke dalam konteks yang lebih luas lagi. Saya kira itulah yang bisa menjadi anak tangga untuk mengembalikan ruh pantun itu.

Banyak orang bilang bahwa berpantun itu susah, padahal tidak. Awak bisa karena terbiasa, mau berlatih dan mau bertanya. Banyak-banyaklah membaca buku-buku pantun yang dibikin oleh orang lain. Jangan pernah menganggap hanya pantun kita yang paling baik. Dengan membaca pantun orang lain akan terjadi pertalian atau pertukaran. Dengan cara itulah kita membangkitkan ruh pantun.

MelOn: Bagaimana membedakan antara pantun klasik dan pantun modern?

Pantun klasik,  antara sampiran dan isinya seringkali tidak ada kaitannya, misalnya:

Kayu jati pelampung pukat
Buluh perindu tidak berdahan
Jantung hati kemari dekat
Hatiku rindu tidak tertahan

Pada bait pantun tersebut ada dua hal yang menarik, yaitu kayu jati pelampung pukat dan buluh perindu tidak berdahan. Memang kayu jati bisa digunakan untuk pelampung pukat, tetapi apa hubungannya dengan buluh perindu tidak berdahan. Antara kayu jati dan buluh perindu tidak ada hubungannya sama sekali. Buluh perindu itu tidak ada orang yang menanam, dan hanya sekedar khayalan, oleh karenanya tidak mungkin disambung dengan kayu jati. Dengan kata lain, baris pertama dan kedua pantun klasik seringkali tidak ada hubungan sama sekali.

Tapi, kalau saya katakan:

Gunung Bintan lekuk ditengah,
Pulau Penyengat kubunya tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi kuingat ku kenang juga

Kalau pergi ke Bintan, dari jauh Anda akan melihat Gunung Bintan. Dan ketika memasuki Pulau Penyengat, Anda juga akan tahu kalau di Penyengat terdapat tiga kubu (meriam pertahanan). Berdasarkan hal tersebut, dapat diketahui bahwa ada hubungan antara baris pertama dan kedua. Di antara kedua tempat tersebut (Pulau Bintan dan Pulau Penyengat), masih ada hubungan sejarahnya.

Selain itu, saya membuat pantun tersebut sebenarnya untuk mengatasi kata-kata Gunung Daik bercabang tiga dan Pulau Pandan jauh ditengah untuk menyampaikan pesan hancur badan dikandung tanah dan budi kuingat ku kenang juga. Apa pasal, karena saya bukan orang Daik, maka saya tidak tahu tentang Gunung Daik dan Pulau Pandan. Yang saya tahu dan selalu saya lihat adalah Gunung Bintan yang bagian tengahnya lekuk, dan Pulau Penyengat yang mempunyai tiga benteng pertahanan.

Namun sering kita mendengar baik melalui televisi atau radio ungkapan yang seperti pantun, misalnya Buah beranang buah kedondong / Tepuk tangan dong dan Cendrawasih burung liar / Terimaksih cukup sekian. Menurut hemat saya, walaupun mempunyai kesamaan bunyi pada bagian akhirnya, keduanya bukan pantun, tetapi sekedar permainan kata-kata.

MelOn: Siapa yang paling bertanggungjawab untuk melestarikan pantun?

AA: Kembali kepada dunia pendidikan. Pantun tidak bisa lepas dari buku-buku yang memungkinkan terjadinya pemahaman sastra. Sastra hanya bisa dipahami melalui buku-buku. Tidak bisa hanya saya yang menyampaikan pantun kepada masyarakat, mungkin juga saya lupa beberapa pantun, atau orang lain tidak bisa menyampaikan seperti saya, atau seseorang hanya bisa menerima tetapi tidak bisa menyampaikan. Tapi kalau melalui buku-buku, pantun akan tetap dapat dibaca dan dipahami. Oleh karena pembuatan kurikulum dan pengadaan buku-buku bermuatan lokal terkait erat dengan pemerintah daerah, maka keberpihakan pemerintah untuk melestarikan pantun sangat menentukan.

(Ahmad Salehudin/brt/11/08)


Dibaca : 9.357 kali.

Tuliskan komentar Anda !