Close
 
Sabtu, 30 Agustus 2014   |   Ahad, 4 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 1.722
Hari ini : 15.442
Kemarin : 20.124
Minggu kemarin : 150.178
Bulan kemarin : 420.919
Anda pengunjung ke 97.068.170
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

23 april 2009 05:58

Colli Pujie Patut Bergelar Pahlawan Nasional

Colli Pujie Patut Bergelar Pahlawan Nasional

Makassar, Sulsel - Seminar sehari dengan mengusung tema “Retna Kencana Colli Pujie Menjadi Pahlawan Nasional di Makassar” yang diadakan di Golden Hotel (MGH) Makassar menghadirkan sejumlah pembicara, mulai dari antropolog, sejarahwan, Departemen Sosial, Badan Arsip dan beberapa sastrawan serta seniman Sulsel. Mereka rata-rata mendukung jika Colli Pujie diberi penghargaan sebagai pahlawan nasional.

Di antara mereka yang jadi pembicara adalah Dr Priyanto Wibowo,M.Hum Ketua Departemen Ilmu Sejarah Universitas Indonesia, Prof Dr Nurhayati, M.Hum Ketua Ilmu Sosial dan Humaniora PKP Unhas, Swary Utami Dewi, M.A aktivis wanita dan alumni Monash University, Australia. Ada juga Dr Edward L Poelinggomang, M.A, dan Prof Dr A Rasyid Asba,M.A. Para pakar inilah yang banyak menilai layak tidaknya Arung Pancana Toa Colli Pujie diusulkan menjadi pahlawan nasional.

Aktivis perempuan asal Dayak Swary Utami Dewi, misalnya, menilai, seseorang tidak hanya layak diberi gelar pahlawan nasional karena pernah memegang bedil melawan penjajah. Namun, menurut Swary, sah-sah saja bila seseorang dihargai karena berbagai keputusan luar biasa yang telah dibuatnya. Keluarbiasaan inilah yang pantas dianugrahkan kepada Colliq Pujie.

‘‘Dia tidak tidak hanya menguasai kecerdasan sejarah, melainkan memiliki keahlian di bidang bahasa, sastra, dan keuangan. Perekat ini yang kemudian mengantarkannya menjadi tokoh dunia yang mengglobal," tandas aktivis jebolan Australia ini.

Bahkan penilaian secara tersurat datang dari sejarahwan Unhas, Dr Edward L Poelinggoman. Dalam makalahnya disebutkan, putri dari La Rumpang Megga yang pernah dinobatkan sebagai Dulung Lamuru dan Datu Mario, sebelum menjadi Raja Tanete pada tahun 1840-1855 dengan tegas menolak kembalinya penjajah Belanda ke Makassar.

Edwar sempat mengutip perkiraan Prof Dr Nurhayati, bahwa Colliq Pujie itu lahir sekitar tahun 1812. "Beruntung karyanya disimpan dengan baik atas perhatian Benyamin Frederik Matthes di Universiteit Bibliotiek Leiden," ujar Edward. Kekuatan Colli Pujie sehingga patut dianugerahi gelar pahlawan nasional bukan semata pada intelektual fisik. Seperti diakui Prof Dr A Rasyid Asba, Colliq Pujie memiliki modal intelektual power yang kemudian menjadi alat perjuangan melawan Belanda ketika itu.

Karena itu, menurut dia, aturan lama perlu diubah bahwa yang layak diberikan penghargaan sebagai pahlawan nasional hanyalah yang melakukan perjuangan fisik. Sebab UU itu sendiri dicetuskan di era tahun 60-an. Untuk setting sekarang tentu itu sudah kedaluarsa. Suasana sekarang sangat berbeda saat Kerajaan Tanete berjuang melawan Belanda. Berkat kepiawaian Colliq Pujie sehingga layak menyandang “diplomat ulung‘” bangsawan Bugis. (Rusdi Nasaruddin)

Sumber: http://www.beritakotamakassar.com
Kredit Photo: http://radioclinic.com


Dibaca : 2.846 kali.

Tuliskan komentar Anda !