Close
 
Rabu, 3 September 2014   |   Khamis, 8 Dzulqaidah 1435 H
Pengunjung Online : 849
Hari ini : 2.462
Kemarin : 26.290
Minggu kemarin : 167.818
Bulan kemarin : 677.761
Anda pengunjung ke 97.079.371
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

25 juli 2007 09:23

Batas Hutan Lindung Harus Disosialisasikan: Rencana Pemusnahan Kebun Sawit

Batas Hutan Lindung Harus Disosialisasikan: Rencana Pemusnahan Kebun Sawit

Rokan Hulu- Sehubungan adanya rencana tim terpadu Kabupaten Rohul (Rokan Hulu) akan melakukan pemusnahan kebun sawit liar di kawasan Hutan Lindung Mahato maupun Bukit Suligi, Kecamatan Tandun, Camat Tandun Muhammad T Fauzan S STP, menyarankan agar instasi terkait segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang batas hutan lindung. Khususnya di Bukit Suligi, Kecamatan Tandun.

Sebab, pada dasarnya masyarakat yang terlanjur membangun kebun sawit di areal hutan lindung itu, setuju dengan rencana pemusnahan kebun sawit mereka. Ini jika memang kebun sawitnya berada di daerah kawasan hutan lindung.

Pernyataan tersebut diungkapkan Fauzan, Jumat (20/7), usai menghadiri sidang paripurna DPRD tentang penyampaian pendapat akhir fraksi-fraksi DPRD Rohul terhadap tiga rancangan peraturan daerah di Kantor DPRD Rohul. Menurutnya, selama ini masyarakat banyak yang belum tahu tata batas hutan lindung sebagaimana yang ditetapkan Menteri Kehutanan RI melalui SK No 23/Kpts-II/1983 seluas 30.695 hektare yang tersebar di Kecamatan Tandun, Rokan IV Koto, Kabun dan Kecamatan XIII Koto Kabupaten Kampar. Apalagi, sebelum kawasan hutan itu ditetapkan menjadi kawasan hutan lindung oleh pemerintah, masyarakat setempat sudah ada yang menetap di daerah itu.

“Kalau dilihat dari peta Hutan Lindung Bukit Suligi yang dikeluarkan Menhut RI di Kecamatan Tandun, ada satu desa yang kami perkirakan masuk ke dalam kawasan hutan lindung, yakni Desa Sungai Kuning. Selain perkampungan penduduk, di daerah itu juga ditemukan kuburan tua seorang tokoh masyarakat setempat, yakni kuburan Datuk Ujung Pahlawan. Sekarang ini, tapal batas hutan lindung yang sudah ditetapkan itu sudah tidak ada lagi, sehingga luas dari kawasan hutan lindung itu tidak bisa diketahui lagi,” ujarnya.

Untuk mengetahui batas hutan lindung itu, Camat berharap, agar unsur terkait terlebih dahulu melakukan sosialisasi sebelum dilakukan pemusnahan kebun sawit yang terlanjur dibangun masyarakat. Ini dilakukan agar hak-hak masyarakat tetap dapat diselamatkan bersamaan dengan penyelamatan kawasan hutan lindung tersebut.

“Jika tapal batas hutan lindung itu diketahui, masyarakat setempat tentu bisa melakukan aktivitas mereka dan tidak perlu khawatir melakukan kesalahan. Karena acuan yang mereka punyai sudah ada. Selama inikan masyarakat belum tahu dimana persisnya kawasan hutan lindung tersebut,” katanya Fauzan.

Ketika ditanya wartawan tentang adanya surat keterangan tanah (SKT) yang dikeluarkan camat setempat sebagai alas hak terhadap pembangunan kebun sawit di kawasan hutan lindung Bukit Suligi tersebut, T Fauzan langsung membantah dan mengaku sejauh ini pihaknya tidak pernah melakukan hal itu. Selama ia menjabat Camat Tandun, dirinya tidak pernah mengeluarkan SKT.

Dijelaskannya, beberapa bulan yang lalu, pihak Dinas Kehutanan Kabupaten Rohul telah melakukan pemusnahan sejumlah kebun kelapa sawit di kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi. Saat pemusnahan dilakukan, sempat terjadi prokontra di tengah masyarakat. Sebagian ada yang mau dimusnahkan dan sebagian lagi ada yang menolak. Penolakan itu terutama dilakukan oleh masyarakat yang terlanjur mambangun kebun mencapai puluhan hektare.

Dari data yang dihimpun Riau Pos dari Dinas Kehutanan Rohul, saat ini luas kawasan Hutan Lindung Bukit Suligi yang semula hanya 30.695 hektare, kini diperkirakan tinggal sekitar 3.000 hektare saja yang berpencar-pencar. Itupun kondisinya sudah terpisah-pisah akibat telah ditanami kebun sawit dan maraknya aktifitas illegal logging.

Dari beberapa kasus illegal logging tersebut, baru-baru ini Dinas Kehutanan Rohul telah mengamankan sedikitnya 50 tual kayu log jenis campuran, tiga unit masin chainsaw dan satu unit mobil penarik kayu jenis combek. Sejauh ini pemilik kayu tersebut belum terungkap.

Sumber : www.riaupos.com
Kredit foto : www.riau.go.id


Dibaca : 3.271 kali.

Tuliskan komentar Anda !