Close
 
Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.752
Hari ini : 12.700
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.271.107
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Berita

30 oktober 2009 02:30

Dicari, Desain Batik Khas Melayu Kepri

Dicari, Desain Batik Khas Melayu Kepri

Tanjungpinang, Kepulauan Riau - Pemprov Kepri melalui Disperindag membuat sayembara desain dan motif batik kas Melayu Kepri sejak awal Oktober lalu. Hasilnya, kemarin semua motif batik yang masuk ke dewan juri sudah mulai dinilai di Hotel Pelangi. Peserta yang ikut termasuk banyak, yakni 17 orang. Masing-masing karya memiliki tema, seperti sirih bersusun colet, penyengat dan berbagai tema lainnya.

Selain itu, masing-masing karya disertai dengan penjelasan filosofi dari motif yang dibuatnya. ’’Pemberitahuannya sudah dari awal Oktober. Hari ini proses penilaian, dan besok (30/10) pemenang sayembara akan diumumkan,’’ ujar Andi Anhar Cahlid, ketua dewan juri.

Sayembara ini kata Andi, bertujuan untuk merangsang minat masyarakat untuk memahami batik lebih jauh. ”Tidak hanya memakai hasil batik yang ada, tapi juga memahami filosofi dari batik itu sendiri,’’ katanya.

Karena alasan itu juga, penilaian sayembara ini, selain dari juri daerah yang terdiri dari tokoh yang mengerti motif dan filosofi motif melayu, yakni Abdul Malik dosen Umrah dan Suzana dari lembaga Adat, juga didatangkan tiga juri dari Balai besar kerajinan dan batik Jogjakarta.

”Sayembara ini betul-betul ingin mencari desain murni dari hasil karya sendiri dan mengerti akan motif batik yang dibuatnya, dan karya pemenang nantinya akan diproduksi menjadi batik khas daerah Kepri,’’ terang Andi.

Untuk membuktikan keaslian desain batik yang dibuat peserta, dewan juri selain melihat hasil karya dan membaca profil peserta dan filosofil motif yang dibuat, juga ada sesi wawancara peserta sehubungan dengan karya yang dibuatnya. ‘’Kami memang mencari motif batik khas melayu yang bagus, tapi juga keaslian hasil karya peserta juga harus dibuktikan, kalau bukan karyanya tidak akan jadi pemenang,’’ tegas Andi.

Keaslian karya batik dari peserta sagat penting, ditambahkan Wisnu dari Balai Besar kerajinan dan Batik Jogjakarta, karena filosofi dari motif batik itu pasti ada. Dan jika memang itu adalah hasil karyanya, dia akan mengerti filosofi batik tersebut seperti apa. Tapi jika dia hanya jago mendesain motif batik, tapi tidak mengerti filososfinya, akan mengurangi nilai peserta. ‘’Disinilah nilai dari produk yang memiliki nilai seni budaya, sehingga ketika terpilih ada filosofi yang bisa dijelaskan pada pencinta batik, jadi tidak sekedar mengenakan batik,’’ terangnya.

Ditambahkan Wisnu, kekuatan dari filosofi batik Indonesia inilah yang membuat PBB akhirnya mengakui batik warisan dunia asli Indonesia. Pengakuan tersebut membangkitkan semangat para pengrajin batik. Bahkan, corak batik yang sebenarnya bukan hanya dari Jawa saja, kini coba digali, seperti Batik khas Melayu. ‘’Ini sayembara pertama motif batik di luar Jawa, tapi pada dasarnya motif batik ada diberbagai daerah di Indonesia, cuma belum dikembangkan dan belum banyak dikenal, saya sendiri memiliki literatur batik hampir dari seluruh Indoensia,’’ paparnya. (dew)

Sumber: http://batampos.co.id


Dibaca : 32.066 kali.

Tuliskan komentar Anda !