Close
 
Rabu, 22 Oktober 2014   |   Khamis, 27 Dzulhijah 1435 H
Pengunjung Online : 1.542
Hari ini : 17.219
Kemarin : 21.528
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.257.484
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

09 april 2010 05:58

Melawat Ke Kalimantan Barat

Heterogenitas Etnis dan Kemegahan Budaya (Bagian 3 - habis)
Melawat Ke Kalimantan Barat
Kunjungan di perpustakaan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional

Oleh Tunggul Tauladan

Perjalanan kami di Kota Pontianak masih berlanjut. Hari ini, rombongan dari Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) mempunyai beberapa agenda acara di Kota Pontianak. Pertama, berkunjung ke kantor Bang Natsir di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan kedua, berkunjung ke Rumah Panjang Dayak di Kota Pontianak.

Rabu, 17 Maret 2010, Hari Ketiga di Pontianak

Kunjungan di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional

Jadwal kami hari ini cukup padat. Pertama, kami diminta untuk singgah di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, tempat di mana sahabat kami, Bang Natsir, berkantor. Kedua, kami juga dijadwalkan untuk berkunjung ke Rumah Panjang Dayak di Kota Pontianak. Selain itu, kami juga harus memenuhi undangan dari Bupati Ketapang, H. Morkes Effendi S.Pd. MH., dan Gusti Kamboja untuk singgah di Ketapang.

Pukul 10.41 WIB, rombongan BKPBM dan Bang Angga telah berada di dalam mobil yang meluncur dari Grand Kartika Hotel menuju Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Letjen Sutoyo, Kota Pontianak. Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Kota Pontianak bernaung di bawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat. Balai ini sekaligus juga menjadi pusat bagi beberapa lembaga serupa yang tersebar di kabupaten-kabupaten se-Kalimantan Barat. Di tempat inilah Bang Natsir berkantor.

Mobil yang membawa kami menuju Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional akhirnya tiba di lokasi. Rombongan kami disambut oleh Bang Natsir dan H. Abdul Hamid, pakar arsitektur dan pimpinan sanggar “Hasta Karya” di Pontianak. Terjadilah dialog singkat seputar kebudayaan Melayu. Dalam kesempatan tatap muka ini, Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra SH. MM., memaparkan bahwa tujuan kedatangan rombongan BKPBM ini adalah mengusung misi kebudayaan Melayu dan mengumpulkan berbagai data kemelayuan.

Selepas tatap muka, kami dipandu menuju perpustakaan di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. Ruang perpustakaan ini cukup besar. Koleksi bukunya beragam, mulai dari cerita daerah, arsitektur bangunan, sampai buku pengobatan Melayu. Sembari membaca dan melihat-lihat koleksi pustaka, Pemangku Balai sekaligus juga mencari data untuk referensi kepustakaan di BKPBM. Beberapa buku yang dinilai sangat berguna untuk memperkaya koleksi BKPBM akhirnya dipilih oleh Pemangku BKPBM. Selanjutnya, Pemangku meminta bantuan kepada Bang Natsir untuk menggandakan buku-buku yang telah dipilih. Buku-buku tersebut antara lain Masjid Kuno Indonesia dan Pengobatan Tradisional Melayu.

Selesai berkunjung ke perpustakaan, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan ke Rumah Panjang Dayak di Kota Pontianak. Di ujung perjumpaan, tanpa diduga, kami mendapatkan keistimewaan dengan pemberian oleh-oleh dari Bapak H. Abdul Hamid berupa dua bungkus asam kranji madu dan dua botol madu dari Puttussibau. Oleh-oleh ini terasa istimewa karena berasal dari Puttussibau, sebuah daerah yang berbatasan dengan Malaysia, kira-kira sejauh 20 jam perjalanan jika ditempuh dengan mengendarai mobil dari Kota Pontianak.


Cinderahati dari H. Abdul Hamid (berdiri paling kanan)
berupa asam kranji madu dan madu dari Puttussibau

Perjalanan akhirnya berlanjut ke Rumah Panjang yang kebetulan lokasinya tak begitu jauh dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional – kira-kira hanya memerlukan waktu 5 menit jika ditempuh dengan mobil. Rombongan kami pun akhirnya berangkat menuju Rumah Panjang Dayak di Kota Pontianak.

Rumah Panjang Dayak


Rumah Panjang di Kota Pontianak

Kami akhirnya tiba di Rumah Panjang Dayak di Kota Pontianak. Rumah Panjang ini terletak di Jalan Letjen Sutoyo No. 4A, Kota Pontianak – di ruas jalan yang sama dengan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. Berbeda dengan Rumah Panjang yang ada di Singkawang, Ruimah Panjang di Kota Pontianak ini terlihat lebih megah. Warna hitam yang dominan dibalut secara apik oleh ornamen ukir khas dayak.

Rumah Panjang ini mempunyai dua lantai. Lantai pertama biasa dijadikan sebagai semacam aula sedangkan lantai dua adalah ruangan utama. Kebetulan, ketika kami berkunjung, terdapat rombangan siswa SD yang tengah beristirahat di lantai satu. Jalan memasuki ruangan utama di lantai dua terbagi menjadi dua jalan, yaitu jalan utama yang melalui tangga yang terbuat dari sebatang kayu ulin dan jalan samping (jalan alternatif) yang juga berbentuk tangga. Jalan utama terbuat dari sebatang kayu yang dipahat dengan ornamen khas Dayak.

Banyak sekali ornamen yang memenuhi dinding ruangan di ruang utama di lantai dua. Di tengah ruangan terdapat semacam aula yang cukup luas. Di kanan-kiri aula terdapat beberapa buah kamar. Kamar paling kiri adalah ruangan untuk Sekretariat Dewan Adat Dayak di Kota Pontianak. Sekretariat Dewan Adat Dayak bertugas sebagai perancang, penyusun dan eksekutor acara yang berhubungan dengan suku Dayak di Pontianak.


Beberapa ornamen khas suku Dayak di Rumah Panjang
di Kota Pontianak

Agenda acara yang paling dekat adalah Pekan Gawai Dayak yang menurut rencana akan diselenggarakan pada tanggal 18 Mei 2010. Pekan Gawai Dayak tahun ini cukup istimewa karena bertepatan dengan ulang tahun perak (25 tahun) Pekan Gawai Dayak yang telah diperingati setiap tahunnya di Pontianak. Menurut rencana, pusat kegiatan pekan Gawai se-Kalimantan Barat akan dipusatkan di Rumah Panjang Dayak di Kota Pontianak ini. Jadi, dapat dipastikan bahwa acara Pekan Gawai Dayak pada tahun ini akan digelar secara besar-besaran.

Ketika berkunjung ke Sekretariat Dewan Adat Dayak, kami ditemui oleh empat orang pengurus Rumah Panjang, yaitu Fabianus Kasim SH, Ketua Panitia Pekan Gawai, Daniel Malik, tokoh Dayak di Pontianak, serta dua orang panitia Pekan Gawai Dayak. Di ruang sekretariat ini, terjadi dialog antara Mahyudin Al Mudra dengan pengurus Rumah Panjang Dayak, yaitu Fabianus dan Kasim Daniel Malik. Usai dialog, kami berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.

Udara terik Kota Pontianak ternyata berimbas kuat pada perut yang tengah keroncongan. Rombongan kami akhirnya singgah di Restoran Seafood Kakap di Kota Pontianak. Bang Eka Kurniawan, Wakil Ketua DPRD Kota Pontianak, mempersilakan rombongan BKPBM untuk mencicipi hidangan di restoran yang terkenal dengan masakan seafood terenak di Kota Pontianak – menurut Bang Eka.

Usai makan, kami harus segera kembali ke Grand Kartika Hotel karena rencana kami hari ini adalah berkunjung ke Ketapang. Serasa diburu waktu, dari Grand Kartika Hotel, kami bergegas ke Bandara Supadio, Pontianak. Sekitar pukul 15.30 WIB, Pesawat Kalstar yang kami tumpangi tinggal landas dari Bandara Supadio dengan tujuan Bandara Rahadi Usman di Ketapang.

Hamparan panorama hijau yang tersusun dari ribuan pohon tampak jelas dari jendela pesawat. Berbagai sungai besar di Kalimantan tampak seperti ular yang meliuk-liuk untuk kemudian bertemu menjadi satu di Laut Karimata. Sekitar 30 menit setelah lepas landas, kami mendarat di Bandara Rahadi Usman di Ketapang.

Rabu, 17 Maret 2010,  Hari Pertama di Ketapang

Gusti Kamboja dan dua orang staf telah menunggu kami di Bandara Rahadi Usman, Ketapang. Setelah mengambil barang-barang yang ada di bagasi, rombongan meluncur ke Hotel Aston yang terletak di Jalan R Supapto 68 A, Ketapang 78851, Kalimantan Barat. Tanpa sempat istirahat dan hanya menyimpan barang-barang bawaan, kami melanjutkan perjalanan ke Rumah Adat Melayu Ketapang.

Eksotisme Rumah Adat Melayu Ketapang


Rumah Adat Melayu Ketapang

Sungai Pawan menjadi saksi kemegahan Rumah Adat Melayu di Ketapang. Memang, sungai Pawan mengalir tepat di belakang Rumah adat Melayu Ketapang. Panorama alam yang indah, yang dipadu apik dengan kemegahan arsitektur khas Melayu, seakan menjadi satu paket tersendiri untuk melukiskan kemegahan Rumah Adat Melayu Ketapang.

Rumah Adat Melayu Ketapang terletak di Kelurahan Mulia Baru, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, kira-kira 2 kilometer dari pusat kota Ketapang. Dominasi cat warna kuning, warna kebesaran Melayu, tampak serasi dengan perpaduan warna hijau daun di pinggir tiap kusen maupun ukiran kayu. Bahan rumah Adat Melayu ini 100% kayu belian (ulin) yang didatangkan dari pemegang HPH “Alas Kusuma”.

Kami mengenang Rumah Adat Melayu Ketapang sebagai salah satu saksi bisu sejarah perkembangan kebudayaan Melayu. Di tempat inilah, pada tanggal 29 Mei 2009 dilakukan pendeklarasian dan pelantikan pengurus Lembaga Adat Melayu Serantau (LAMS). Di tempat ini juga, Pemangku BKPBM, Mahyudin Al Mudra SH. MM., mendapat anugerah Tokoh Pemersatu Melayu Serantau yang diberikan oleh Dato Sri Petinggi Kyai Mangku Negeri H. Morkes Effendi S.Pd. MH., selaku Sekretaris Jenderal LAMS sekaligus Bupati Ketapang.

Mengawali langkah memasuki Rumah Adat Melayu, kami menaiki sebuah tangga kayu yang dibuat sebagai jalan masuk ke beberapa pintu di Rumah Adat Melayu ini. Sebelum naik ke atas rumah, para pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki. Naik ke ruang depan di rumah ini, terlihat berbagai benda yang terbuat dari kayu, misalnya kursi. Memasuki ruang tengah, terdapat meja besar dari kayu yang di pinggirnya terdapat banyak kursi, sampan beratap, dua buah cermin dengan ukuran yang sangat besar, dan lampu kristal. Memasuki ruang belakang, terdapat semacam aula yang lebar dengan pandangan langsung ke arah sungai Pawan. Ruang ini biasanya dijadikan sebagai tempat untuk menjamu para tamu.

Kami tidak hanya mengunjungi bagian dalam Rumah Adat Melayu Ketapang melainkan juga di bagian bawah rumah tersebut. Di bawah rumah ini, tampak jelas ratusan batang kayu yang berfungsi sebagai fondasi. Menurut penjaga rumah, fondasi rumah dibagi menjadi dua. Fondasi pertama adalah fondasi bawah yang terdiri dari 180 tiang berukuran 20x20 cm dengan ketinggian 1 meter. Pondasi pertama ini kemudian diisi pasir yang dipompa dari sungai Pawan. Maklum, lokasi Rumah Adat Melayu ini dulunya adalah rawa sehingga dibutuhkan banyak pasir untuk memadatkan tanah. Fondasi kedua adalah tiang kayu yang berjumlah 180 tiang berukuran 20x20 cm dengan ketinggian 2 meter. Bagian atas fondasi tiang kedua ini ditutup dengan papan kayu yang berfungsi sebagai lantai. Di atas lantai rumah, berdiri tiang-tiang untuk menyangga bangunan dan atap rumah.

Di samping kiri Rumah Adat Melayu terdapat lapangan bola voli. Di sebelahnya terdapat tempat pembuatan sekaligus penyimpanan (garasi) sampan. Sampan-sampan inilah yang biasanya dipakai dalam perlombaan sampan. Di samping kanan bangunan, terdapat gazibu. Di depan gazibu dibangun rumah untuk penjaga. Sebuah menara berdiri di samping rumah penjaga. Menurut penjaga rumah, menara tersebut biasa dinaiki oleh para pengunjung untuk melihat fenomena sunset pada sore hari. Arsitektur bangunan khas Melayu, ditambah dengan ornamen (ukiran) Melayu, menambah nuansa indah sekaligus megah.


Tampilan beberapa sudut dari bangunan Rumah Adat Melayu Ketapang

Selanjutnya kami menuju ke Keraton Kerajaan Matan.

Keraton Kerajaan Matan


Keraton Kerajaan Matan

Keraton Kerajaan Matan terletak di Jalan Pangeran Kusuma Jaya, Kelurahan Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Jarak Keraton Kerajaan Matan dari pusat kota Ketapang kira-kira 4 km atau sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil jika ditempuh dari Rumah Adat Melayu. Di depan Keraton Kerajaan Matan terdapat taman Gusti Muhammad Saunan (G.M. Saunan). Taman ini dipisahkan dari kompleks Keraton oleh jalan beraspal. Di belakang Taman G.M. Saunan, mengalirlah sungai Pawan.

Sama halnya dengan Rumah Adat Melayu Ketapang, bangunan Keraton Kerajaan Matan juga didominasi oleh warna kuning yang dipadu dengan warna hijau daun. Sebelum memasuki Keraton, pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki. Setelah menaiki tangga, ruang pertama yang dikunjungi adalah aula. Berjalan lurus dari aula, kita akan menjumpai ruang utama yang berisi singgasana sultan dan permaisuri. Di kanan-kiri ruang utama, terdapat beberapa ruangan (kamar), salah satunya adalah kamar sultan yang masih lengkap – bahkan masih terdapat tempat tidur sultan terdahulu.

Di sebelah kiri aula, terdapat ruangan untuk menyimpan beberapa benda peninggalan Kesultanan Matan, seperti sepasang meriam “Padang Pelita”, kain songket (kain Lungi) dengan motif lungi dan puncak rebung yang telah berusia 340 tahun, kain lungi motif balai mengunang yang telah berusia 263 tahun, guci, timbangan, mesin jahit, tempat perhiasan, dan tombak. Meriam “Padam Pelita”, menurut mitos, konon dibuat oleh makhluk halus.

Di samping kanan bangunan utama, terdapat ruangan (rumah) yang dijadikan sebagai sanggar tenun Utin Bimasrah Mitra Binaan Dekranasda TK II, Kabupaten Ketapang. Sementara itu, di sebelah kiri bangunan utama, terdapat sebuah balai penganginan. Pada zaman dulu, sultan biasa naik ke balai penganginan ini untuk melihat kondisi rakyatnya. Di sebelah balai panganginan, menurut Gusti Kamboja, dulu dibangun ruangan untuk penjara. Tetapi bangunan penjara ini kini sudah tak berbekas.


Tampilan beberapa sudut dari bangunan Keraton Kerajaan Matan

Kami meninggalkan Keraton Kesultanan Matan dan menuju ke Makam Keramat Tujuh.

Makam Keramat Tujuh


Makam Keramat Tujuh

Ketika rombongan tiba di permakaman, waktu telah beranjak petang, kira-kira ba’da Magrib. Meskipun demikian, antusiasme kami tak berkurang demi melihat kekayaan budaya di Ketapang, khususnya wisata religius berupa Makam Keramat Tujuh ini. Makam ini terletak di Jalan Pangeran Kusuma Jaya, Ketapang, kira-kira 4 km dari Kelurahan Mulia Kerta. Lokasi makam ini dapat dicapai sekitar 10 menit dengan mobil dari Keraton Kerajaan Matan.

Makam Keramat Tujuh merupakan sebuah areal permakaman tua yang pada batu-batu nisannya banyak tergurat huruf Arab dan huruf Jawa. Di permakaman inilah kerabat Kesultanan Matan dimakamkan.

Makam Keramat Tujuh dipercaya memiliki tuah dan sering menjadi tempat untuk mencari berkah. Selain itu, ada pula pengunjung yang menjadikan makam ini sebagai tempat untuk menunaikan nazar dan mencari penyembuhan penyakit. Di kompleks makam ini, dibangun sebuah pendopo yang biasanya dijadikan sebagai tempat bagi para pengunjung untuk duduk melepas lelah. Rumah juru kunci makam terletak tak jauh dari makam. Juru kunci inilah yang biasanya memandu para pengunjung untuk mengenal lebih jauh tentang Makam Keramat Tujuh.

Kami tak lama singgah di makam ini karena kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Makam Pangeran Iranata.

Makam Pangeran Iranata (Astane Raja Tanjungpura Pangeran Iranata)


Makam Pangeran Iranata

Makam Pangeran Iranata berlokasi tak jauh dari Makam Keramat Tujuh, kira-kira hanya 10 menit perjalanan menggunakan mobil. Makam Pangeran Iranata terletak di Desa Negeri Baru, Kecamatan Benua Kayong, Kabupaten Ketapang atau sekitar 5 KM dari pusat kota Ketapang. Kawasan Makam Pangeran Iranata ini terkenal dengan artefak peninggalan kebudayaan Hindu berupa candi yang terbuat dari batu merah. Selain itu, di makam ini juga terdapat pecahan keramik, batu purba, dan kuburan kuno dengan arsitektur Islam.

Usai berziarah ke Makam Pangeran Iranata, kami diajak oleh Gusti Kamboja untuk singgah sebentar di kediaman beliau di Jalan Merak Kampung Sampit, Ketapang. Kami hanya sebentar singgah di rumah Gusti Kamboja. Selanjutnya, beliau menjamu kami makan malam. Menu makan malam hari ini adalah seafood. Mobil pun diarahkan menuju ke Rumah Makan Seafood “Tambak Udang” di daerah Sukaharja, di tepi sungai Pawan. Selepas makan malam, kami kembali ke Rumah Adat Melayu untuk memenuhi undangan dari Bupati Ketapang, H. Morkes Effendi S.Pd. MH.

Sekitar pukul 20.30 WIB, kami sampai di Rumah Adat Melayu. Rombongan BKPBM disambut oleh Bupati Ketapang, H. Morkes Effendi S.Pd. MH., beserta beberapa kepala dinas di Kabupaten Ketapang. Ramah tamah selepas makan malam ini berlangsung hangat. Di tengah harmonisasi yang terangkum ke dalam rumpun Melayu, sekat tentang definisi sempit Melayu yang tercetus secara politik seakan sirna dengan keakraban yang telah terjalin di antara puak-puak Melayu serumpun.

Dalam kesempatan ini, Pemangku BKPBM menyerahkan cenderahati kepada Bupati Ketapang berupa buku 336 cerita Rakyat Nusantara. Sebagai balasannya, para Kepala Dinas Ketapang juga memberikan cenderahati berupa beberapa buku tentang cerita rakyat di Ketapang dan beberapa leaflet tentang ketapang.

Acara ramah-tamah ini berlangsung sampai pukul 23.28 WIB. Setelah itu, rombongan BKPBM kembali ke Hotel Aston untuk beristirahat karena besok pagi kami dijadwalkan untuk kembali ke Kota Pontianak.

Kamis, 18 Maret 2010, Hari Kedua di Ketapang

Pagi ini, kami berencana untuk kembali ke Pontianak. Pesawat yang kami tumpangi dijadwalkan untuk tinggal landas dari Bandara Rahadi Usman pada pukul 07.45 WIB. Selepas packing, kami segera meninggalkan hotel dan menuju ke bandara. Sesampainya di bandara yang dapat ditempuh tak lebih dari 15 menit perjalanan dengan mobil, kami segera menuju ruang tunggu VIP karena menurut jadwal, Bupati Ketapang, H. Morkes Effendi S.Pd. MH., juga dijadwalkan untuk pergi ke Pontianak.

Tak lebih dari 15 menit kemudian, Bupati Ketapang tiba di ruang tunggu. Ramah-tamah dengan Bupati Ketapang hanya berlangsung singkat karena pesawat Trigana Air yang akan membawa rombongan Bupati ketapang ke Pontianak telah mendarat di Bandara Rahadi Usman. Setelah Pak Bupati naik pesawat, dari pengeras suara terdengar pengumuman bahwa pesawat Kalstar telah berada dalam perjalanan menuju Ketapang. Pesawat inilah yang akan membawa kami kembali ke Pontianak.

Tepat pukul 08.00 WIB, kami berangkat dari Ketapang menuju Pontianak. Pesawat Kalstar yang kecil dan berkapasitas 40 penumpang tinggal landas dari Bandara Rahadi Usman menuju Bandara Supadio di Pontianak. Kami mendarat di Bandara Supadio, Pontianak, 29 menit kemudian.

Kamis, 18 Maret 2010, Hari Keempat di Pontianak

Di Bandara Supadio, kami dijemput oleh Bang Angga. Mobil yang dikemudikan oleh Bang Angga membawa kami menemui Bang Eka Kurniawan. Pertemuan tersebut terjadi di Rumah Makan Cane yang terletak di Jalan Ir. Djuanda. Jalan Ir. Djuanda memang terkenal sebagai daerah yang menjual Roti Cane yang sangat lezat.


Roti Cane

Rombongan kami dan Bang Eka akhirnya menyantap Roti Cane yang telah terhidang. Di sini, kita bisa memesan tiga macam Roti Cane, yaitu Cane Kambing, Sapi, dan Ayam. Selain Roti Cane, tersedia pula bubur dan soto ayam. Usai makan, kami menjemput Bang Nasir di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional untuk kemudian bertolak menuju Makam Kesultanan Kadriah Pontianak di Batulayang.

Makam Raja Kesultanan Kadriah Pontianak (Makam Batu Layang)


Makam Batu Layang

Makam para sultan di Kesultanan Kadriah Pontianak ini terletak di daerah yang bernama Batu Layang, kira-kira berjarak 15 kilometer dari muara Sungai Kapuas atau 2 kilometer dari Tugu Khatulistiwa di Batu Layang, Pontianak. Sultan-sultan Kadriah, sejak sultan pertama Kesultanan Kadriah, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, hingga sultan terakhir, Sultan Hamid II Alkadrie, dimakamkan di permakaman ini. Di kompleks permakaman ini, juga dimakamkan para permaisuri sultan dan para pangeran Kesultanan Kadriah Pontianak.


Searah jarum jam dari atas ke bawah: Makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie,
Sultan Syarif Kasim Alkadrie, Sultan Syarif Joesoef Alkadrie, Sri Paduka Sultan Saidis
Syarif Alkadrie, Sultan Syarif Hamid I Alkadrie, Sultan Hamid II Alkadrie.

Rombongan kami tiba di Makam Batu Layang sekitar pukul 11.00 WIB. Udara yang cukup terik mengiringi langkah kami menuju kompleks permakaman para sultan ini. Di luar makam, tampak gundukan batu yang dicat dengan warna hijau. Gundukan inilah yang disebut sebagai Batu Layang. Di dekat Batu Layang, terdapat sebuah meriam yang dicat dengan warna kuning. Di sebelah kiri makam, terdapat surau kecil. Para pengunjung makam dipersilakan untuk menyempatkan diri sholat di surau dan mendoakan arwah para sultan yang dimakamkan di Makam Batu Layang.


Inilah yang disebut Batu Layang

Para pengunjung yang akan memasuki makan harus melewati gapura bercat kuning dengan pagar dari semen yang menyatu mengelilingi kompleks permakaman. Setelah melewati gapura dan menunju pintu masuk, pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki.

Makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak, terlihat menjadi sentral dari areal permakaman ini. Makam ini terletak di tengah, lurus dengan jalan ketika para pengunjung akan memasuki kompleks permakaman. Makam Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie ditempatkan di ruangan tersendiri yang mirip dengan bunker kecil sehingga para pengunjung yang akan memasuki makam tersebut harus menundukkan kepala. Pembuatan tempat semacam ini lebih bermakna simbolis, yaitu dengan maksud agar para pengunjung yang akan masuk menundukkan kepala sebagai wujud penghormatan kepada sang pendiri Kesultanan Kadriah Pontianak.

Makam para sultan di sini kebanyakan mempunyai warna nisan yang sama, yaitu berwarna emas. Selain itu, nisan-nisan di permakaman ini juga ditulis dengan huruf Arab yang melambangkan bahwa Kesultanan Kadriah Pontianak memang bernafaskan Islam. Hal ini sesuai dengan cikal bakal pendirian Kesultanan Kadriah Pontianak oleh Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, yang merupakan seorang ulama dari daerah yang bernama Hadramaut, Yaman Selatan.

Perpaduan warna kuning (emas) yang melambangkan warna khas Melayu dipadu dengan tulisan Arab yang bernuansa Islam menunjukkan bahwa Kesultanan Kadriah Pontianak dibangun berdasarkan percampuran budaya, setidaknya didominasi oleh dua kebudayaan, yaitu Arab dan Melayu. Cerminan perpaduan kebudayaan ini bahkan terbawa pada bentuk nisan dan makam yang ada di Batu Layang ini.

Setelah puas menyaksikan makam para sultan di Batu Layang, rombongan kami akhirnya memungkasi lawatan ke Kalimantan Barat ini karena harus kembali ke Yogyakarta. Ditemani oleh Bang Eka, Bang Natsir, Bang Angga, dan dua orang staf Bang Eka, rombongan kami akhirnya diantar ke Bandara Supadio untuk kemudian naik pesawat menuju Yogyakarta.

Akhirnya, setelah 4 hari berada di Pontianak dan 1 hari berada di Ketapang, lawatan budaya di Kalimantan Barat ini berakhir. Lawatan ini menyisakan sejumlah kenangan yang akan sulit untuk sirna. Kemegahan budaya dan keragaman etnis menjadi nilai tawar yang sulit untuk ditandingi. Kalimantan Barat memang menyimpan banyak potensi.

Kesan yang sangat mendalam kami rasakan pada kehangatan dan keramahan manusia-manusia dan puak Melayu di Kalimantan Barat. Semoga keharmonisan ini tetap abadi.

__________

Tunggul Tauladan, redaktur MelayuOnline.Com dan peneliti di Balai Kajian dan pengembangan Budaya Melayu (BKPBM) Yogyakarta.

Sumber Foto: Koleksi BKPBM (Fotografer: Aam Tito Tistomo)


Dibaca : 9.787 kali.

Tuliskan komentar Anda !