Close
 
Jumat, 25 Juli 2014   |   Sabtu, 27 Ramadhan 1435 H
Pengunjung Online : 1.369
Hari ini : 10.200
Kemarin : 23.254
Minggu kemarin : 157.256
Bulan kemarin : 128.832
Anda pengunjung ke 96.943.167
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

24 januari 2011 07:54

Mengenal Suku Sabu, Sawu, atau Savu

Mengenal Suku Sabu, Sawu, atau Savu

Oleh Yusuf Efendi

Sabu adalah nama suku dengan beberapa sebutan berbeda, antara lain Savu, Savunesse, atau Sawu. Sabu juga dikenal sebagai nama sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Orang Kupang meyakini bahwa leluhur mereka berasal dari Suku Sabu. Sedangkan orang Sabu sendiri mempercayai bahwa asal-muasal mereka berasal dari dua sosok sakral, yakni Kika Ga dan Hawu Ga. Dalam legenda, kisah leluhur ini dikenal dengan ungkapan: Bou dakka ti dara dahi, agati kolo rai ahhu rai panr hu ude kolo robo (orang yang datang dari laut, dari tempat jauh, lalu bermukim di Pulau Sabu).

Konon, Kika Ga menurunkan generasi orang Sabu sekarang yang disebut dengan nama Do Hawu. Sedangkan Hawu Ga diabadikan sebagai nama lain Pulau Sabu, yakni Rai Hawu. Kisah leluhur ini menjadi kisah yang menarik dan unik dalam kehidupan orang Sabu. Bahasa lokal mereka yang khas juga dipercaya telah diajarkan oleh para leluhur ini.

Dalam kesehariannya, orang Sabu berkomunikasi dengan menggunakan bahasa asli Sabu yang memiliki beberapa dialek, antara lain dialek Raijua, Mesara, Timu, dan Seba. Namun, hampir semua orang Sabu dapat mengerti bahasa yang digunakan meskipun dengan dialek yang berbeda-beda. Bahasa Sabu juga diperkaya oleh bahasa-bahasa lainnya, seperti bahasa Bima atau Sumba.

Orang Sabu menganut sistem kekerabatan patrilineal di mana lelaki menjadi pusat dari segala perilaku budaya dan sosial mereka. Mereka diikat dalam keluarga batih yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak atau hewue dara ammu. Dalam kehidupan sosial orang Sabu, keluarga batih ini biasanya membentuk keluarga besar (huwue kaba gatti). Keluarga ini menempati sebuah rumah adat yang dihuni oleh seluruh anggota keluarga dari garis keturunan nenek atau yang disebut garis keturunan Heidau Appu.

Selain sekutu keluarga batih, orang Sabu biasanya juga akan membentuk klan-klan kecil yang disebut Hewue Kerogo. Keturunan dua atau tiga nenek yang bersaudara beserta cucu dan keturunannya dalam klan ini akan dipimpin oleh seseorang yang dihormati yang disebut Kattu Kerogo. Di atas Hewue Kerogo terdapat sebuah klan besar yang disebut Hewue Udu yang dipimpin oleh seorang yang disebut Banggu Udu.

Suku Sabu memiliki struktur kepemimpinan yang sistematis dan harus ditaati bersama. Jika dilanggar, maka akan mendapat sangsi adat. Struktur ini terbagi ke dalam tiga jabatan yang dipegang oleh orang, yaitu Kattu Udu Dara Ammu (pemimpin tertinggi Hewue Dara Ammu), Kattu Kerogo (pemimpin Kerigo), dan Banggu Adu (pemimpin Hewue Adu).

Kattu Udu Dara Ammu berwenang dalam memimpin upacara adat, mengatur norma kehidupan, serta menjaga persatuan keluarga. Kattu Kerogo memiliki kekuasaan untuk mengatur kehidupan Kerogo serta berhak menyatakan pendapat dan hak pakai atas tanah milik Kerogo. Sedangkan Banggu Adu berhak mengatur hak pakai tanah bagi anggota Udu karena beberapa tanah merupakan hak ulayat yang tidak boleh dipakai. Banggu Adu memiliki kekuasaan penuh dalam setiap penggarapan tanah yang dilakukan oleh anggota Udu. Oleh karena itu, anggota-anggota Udu harus taat kepada Banggu Udu terutama dalam hal sosial, seperti bergotong-royong.

Masyarakat Sabu dikenal sebagai masyarakat agraris dan nelayan. Jika pagi tiba, mereka akan pergi ke sawah, padang ternak, menangkap ikan, serta membuat dan menjual gula khas Sabu yang terbuat dari nira. Kondisi geografis NTT yang bergunung-gunung dan banyak lahan ladang menjadikan orang Sabu akrab dengan beragam hewan ternak, seperti kerbau dan kuda. Ternak dalam kehidupan orang Sabu bahkan menjadi salah satu rujukan mengenai status sosial seseorang. Semakin banyak ternak yang dimiliki oleh seseorang, maka status sosial orang itu semakin tinggi. Ternak menjadi salah satu patokan mengenai status sosial karena dalam tradisi orang Sabu, misalnya dalam upacara-upacara adat, pengorbanan hewan ternak menjadi salah satu persyaratan yang harus dipenuhi.

Orang Sabu menganut kepercayaan tradisional yang disebut Jingitiu. Kepercayaan Jingitiu ini sebenarnya hanyalah sebutan dari para penginjil Kristen Portugis saja, karena kepercayaan asli orang Sabu tidak diketahui secara pasti namanya. Hal ini didasarkan pada arti Jingitiu dalam bahasa lokal, yakni menolak (jingi) dari (ti) Tuhan (au). Padahal orang Sabu sangat meyakini adanya Tuhan yang mereka sebut dengan Deo Ama (Allah Bapa, asal dari segala sesuatu) atau Deo Woro Deo Pennji (Tuhan pencipta semesta) atau Deo Mone Ae (Tuhan Maha Kuasa/Maha Agung).

Terlepas dari minimnya pengetahuan awam terhadap eksistensi orang-orang Suku Sabu, namun keberadaan mereka cukup penting untuk dikenali. Kenalilah identitas orang-orang Sabu dari sisi diri mereka sendiri, karena dengan cara begitu, misteri yang selama ini melingkupi kehidupan Suku Sabu akan terurai dengan sendirinya. Sabu, sebagai salah satu suku yang ada di khazanah dunia Melayu, menjadi bagian dari kekayaan bangsa ini yang harus dipelihara dan diposisikan sederajat dengan suku bangsa lain.

__________

Yusuf Efendi, Redaktur www.MelayuOnline.com 

Sumber Foto: http://www.petantt.com


Dibaca : 4.988 kali.

Tuliskan komentar Anda !