Close
 
Jumat, 21 November 2014   |   Sabtu, 28 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 931
Hari ini : 2.180
Kemarin : 21.623
Minggu kemarin : 138.468
Bulan kemarin : 718.966
Anda pengunjung ke 97.364.503
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Opini

22 april 2007 05:26

Sastra Melayu Lama

Sastra Melayu Lama

Oleh: Prof. Dr. Sulastin Sutrisno

Dalam tulisan ini, penulis ingin menunjukkan bahwa tema utama dalam karya sastra Melayu lama bertujuan untuk meng­ungkapkan dan menggambakan kehidup­an mental-spritual yang nilainya abadi dan terpusat pada ajaran moral. Karya-karya sastra Melayu lama mengungkapkan pengalaman-pengalaman jasmani­ah dan rohaniah dalam kaitannya dengan perasaan suka dan duka, serta dengan kepercayaan akan ada­nya dunia gaib dan kesaktian.

1. Bentuk Sastra Melayu Awal

Sastra Melayu lama merupakan sastra daerah yang merekam segala aspek kehidupan bangsa Melayu, baik jasmaniah mau­pun rohaniah dalam berbagai bentuk. Sastra tersebut ber­kembang sesuai dengan perkembangan pendukungnya dari taraf yang paling sederhana melalui bentuk lisan, terutama di kam­pung-kampung, sampai kepada yang tertuang dalam tulisan yang di­mulai dari istana. Sari pikiran dan perasaan orang Melayu mengenai segala peristiwa yang dialiri dan dihayati bersama di sekelilingnya dinyatakan dalam bentuk yang singkat, dalam bahasa kiasan yang terdiri atas mantra-mantra, persamaan, perumpamaan, ibarat, bidal, tamsil, sindiran, dan lambang.

Mantra-mantra diucapkan untuk mengusir roh atau hantu jahat dan mendatangkan pengaruh baik. Masyarakat waktu itu beranggapan bahwa hidupnya berhadapan dengan atau dike­lilingi oleh makhluk jahat yang harus dijaga jangan sampai meng­ganggu, bahkan kalau bisa menjadi sahabatnya. Bahasa kiasan juga banyak dipakai sebagai alat pendidikan, karena masyarakat berpendapat bahwa memberi pengajaran kepada orang cukup dengan kiasan saja, tidak seperti mendidik binatang dengan pukulan. Pendirian seperti ini terpancar dari ungkapan “manusia tahan kias, binatang tahan palu”.

Dalam tiap sektor kehidupan Melayu tersimpan berbagai jenis bahasa kias dengan berbagai tujuan. Misalnya, di kalangan rumah tangga ada “sambil berdiang nasi masak”, di kalangan orang muda ada “adat muda menanggung rindu”, di lingkungan peladang  ada “pagar makan tanaman”, di lingkungan pendidikan ada “manis jangan lekas ditelan, pahit jangan lekas dimuntahkan”, untuk peristiwa sejarah ada “peluru habis, Palembang tak kalah”, dan sebagainya. Sampai sekarang tidak jarang orang meyakinkan suatu pandangan dengan suatu peribahasa yang sudah dikaji kebenarannya melalui pemikiran dan penghayatan berabad-abad oleh bangsa pemakai bahasa itu. Dunia luas peribahasa mengandung falsafah bangsa yang diwariskan sepanjang masa sebagai pusaka kebijakan dan kecerdikan (Sulastin, 1975). Bentuk-bentuk ringkas bahasa kiasan itu mempunyai gerak lagu tertentu, meskipun kadang-kadang kurang jelas. Oleh karena adanya irama inilah maka bahasa kiasan merupakan bahasa ikatan yang tertua dalam permulaan tradisi sastra.

Dari berbagai contoh diatas tampak bahwa bentuk sastra awal ini pertama-tama bukan untuk bersuka-sukaan, melainkan untuk memperoleh kesaktian, baru kemudian untuk tujuan-tujuan lain. Dalam bentuk terikat dan tetap itulah seakan-akan terpaut kekuatan sakti (Emeis, 1949: 5-16). Bentuk sastra awal kemudian berkembang menjadi cerita-cerita lisan dan tertulis sebagai pengungkapan aneka ragam pokok pikiran seperti yang akan dipaparkan dalam bagian-bagian berikut. Sastra Melayu lama yang patuh pada konvensi merupakan milik bersama yang dipelihara bersama-sama dalam suatu khazanah yang kaya, tempat menyimpan berbagai nilai budaya Melayu pada masa silam.

2. Tema Utama: Sebuah Pengertian

Yang dimaksud dengan tema utama adalah tema pokok, yaitu tema yang lebih ditampilkan dalam suatu karya sastra. Dalam studi sastra ada beberapa istilah yang sama, tetapi pengertian atau pemakaiannya dalam sistem atau tradisi sastra di berbagai negeri tidak sama, sehingga di sini perlu dijelaskan pengertian yang dipakai agar tidak menimbulkan salah paham.

Dalam istilah Anglo-Saxon, istilah “tema” mewakili pemikiran pusat dan pemikiran dasar atau tujuan penulisan suatu hasil sastra. Tema ini dalam peristilahan Jerman disebut motiv, sedang tema utama disebut leitmotiv (Sutrisno, 1983:128). Tema utama didukung oleh tema-tema sampingan yang menonjolkan tujuan dasar penulisan yang terbayang dalam semua bagian cerita. Dalam bagian berikut akan dicoba untuk mengamati tema utama dalam berbagai karya sastra Melayu lama menurut bentuk dan jenisnya.

Seperti halnya sastra lama Nusantara lainnya, sastra lama Melayu pun mengenal bentuk sastra lisan, yang dituturkan dari mulut ke mulut, dari orang tua kepada anak, dari anak kepada cucu, dari cucu kepada cicit, dan seterusnya. Singkatnya, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Di antara sastra lisan ini ada yang didengarkan dan dihayati bersama-sama pada peristiwa-peristiwa tertentu, dengan maksud untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Orang menebak teka-teki dan berbalas pantun pa­da upacara menanam padi dengan harapan agar hasil panennya berlimpah; pada upacara perkawinan agar pasangan pengantin dalam per­jalanan hidupnya selamat dan bahagia; pada peristiwa kelahiran agar bayi terhindar dari segala pengaruh jahat dan selanjutnya diberi kesehatan serta tumbuh menjunjung tinggi adat dan tradisi nenek moyangnya. Upacara dengan tujuan magis itu biasanya dipimpin oleh seorang pawang yang dengan serapah, mantra, dan kemahirannya memilih kata yang mengandung kekuatan gaib atau menghindari pantang bahasa yang mampu menjauhkan segala gangguan terhadap tanaman dan orang. Oleh karena cerita-cerita itu dituturkan di luar kepala, maka bentuk-bentuk bahasa tetap men­jadi yang paling cocok, karena lebih mudah diingat.

Selain untuk keperluan tersebut, bentuk sastra lisan juga di­pakai sebagai penghibur hati yang gundah oleh seorang penglipur lara atau tukang cerita profesional, yang pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk membawakan cerita. Cerita bisa dibawa­kan pada waktu senja atau pada malam bulan purnama, sehabis mereka bekerja berat sehari penuh. Cerita tersebut membawa mereka ke dunia khayal yang penuh keindahan, ke negeri-negeri yang jauh dengan tokoh-tokoh putra-putra raja yang gagah berani dan putri-putri yang cantik, serta kemenangan pepe­rangan yang gilang-ge­milang melawan makhluk-makhluk yang jahat. Cerita-cerita ini dalam sejarah perkembangannya diperluas oleh sang pencerita dengan bahan-bahan yang didengarnya di pelabuhan dan di pasar-pasar (Hooykaas, 1951: 87), sehingga menjadi cerita-cerita yang lebih menarik dan memenuhi cakra­wala harapan pendengarnya. Hal ini terbukti dari makin ba­nyaknya pendengar dan makin asyiknya mereka mendengarkan.

Yang termasuk cerita lisan adalah cerita Pontianak, Kelembai, ce­rita tentang asal-usul ular sawah tidak berbisa, harimau berbelang, gadung berbisa, asal-usul nama tempat Malaka, Patani, Singapura, dan sebagainya. Demikian pula cerita binatang pelanduk yang mendidik masya­rakat ke arah perbuatan, tingkah laku, dan ke­biasaan yang baik yang disepakati oleh masyarakat itu (Asdi, 1982: 32). Cerita jenaka Lebai Malang, Pak Pandir memberikan pelajaran melalui lelucon dan merupakan cerita-cerita lisan yang cukup populer karena tidak menyinggung perasaan. Cerita binatang me­nanamkan rasa harga diri yang mengajarkan bahwa yang lemah pun dapat menang asal mempergunakan pikiran (Asdi, 1983: 1).

Seni rakyat asli dalam bahasa Melayu lama, terutama seni ber­cerita dan memperdengarkan (Emeis, 1949: 25), sangat digemari dan dinikmati bersama-sama. Kenikmatan ini antara lain terdapat dalam kebersamaannya. Dalam suasana kebersa­maan pendengar lebih dapat meresapinya, sehingga batin terasa mendapat tambahan kekuatan, seperti dalam acara mendengarkan macapat di Jawa Tengah, mabasan di Bali, dan beluk di Jawa Barat. Melalui cerita-cerita yang diperdengarkan didambakan keselamatan lahiriah dan batiniah bagi manusia dan alam sekelilingnya serta perilaku yang terpuji dalam hubungan dengan sesamanya.

Dengan tumbuhnya sastra tulis, cerita-cerita lisan yang pada umumnya penuh pepatah-petitih, nasihat, dan bernilai didaktis itu lambat laun menjadi bukan satu-satunya bentuk sastra. Sastra lisan tidak lenyap. Bahkan, antara sastra lisan dan sastra tulis kemudian timbul interaksi yang kuat. Manakala sastra lisan sudah ditulis se­suai dengan tradisi sastra tulis sastra tulis, kemudian menjadi salah satu sumber sastra lisan.

Kehadiran sastra tulis Melayu dapat dilacak kembali sampai abad ke-7 berdasarkan penemuan tulisan dengan huruf Pallawa pada batu di Kedukan Bukit (683), Talang Tuwo (684), Kota Kapur (686), dan Karang Berahi (686). Betapa pun pendeknya tulisan dalam bahasa Melayu kuno itu, karena hanya memuat pemberitahuan-pemberitahuan resmi Raja Sriwijaya, namun dokumentasi itu da­pat dipandang sebagai permulaan tradisi sastra tulis. Penemuan prasasti awal ini disusul oleh penemuan prasasti Gandasuli di Jawa dalam bahasa Melayu yang bercam­pur dengan bahasa Sanskerta (832).

Pada abad ke-14 ditemukan prasasti Pagarruyung (1356) di Minangkabau dan prasasti Minye Tujoh di Aceh. Keduanya masih memakai huruf Pallawa. Prasasti Trengganu (1303) telah memakai huruf Arab. Pada abad ke-15 ditemukan dua prasasti di Malaysia, sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab, yaitu prasasti batu nisan Raja Fatimah (1496), prasasti Pangkalan Kempas (1467), dan dua prasasti setengah Melayu setengah Arab dari Brunei Darussalam, dan pada abad ke-17 ditemukan prasasti dari Pulau Langkawi (Teeuw, 1961: 9-12).

Pada prasasti-prasasti itu dapat diamati tumbuhnya sastra tulis Melayu di Melaka, yaitu sekitar tahun 1500, sebagaimana terlihat pada tumbuhnya sastra tulis kraton yang disebut hikayat yang berhadapan dengan sastra rakyat lisan. Kata hikayat berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘cerita‘. Penggunaan kata ini dalam sastra Melayu merupakan petunjuk bahwa unsur Islam telah masuk ke tradisi sastra tulis Melayu. Pendapat ini diperkuat oleh adanya  peng­gunaan tulisan Arab pada prasasti Trengganu.

Sebagai jenis sastra, hikayat sudah dikenal di kalangan masya­rakat Melayu sejak tahun 1511, seperti terlihat dari dimuatnya “Hikayat Amir Hamzah” dan “Hikayat Muhammad Hanafiyah” dalam Sejarah Melayu, yang menurut Roolvink (1975: 7) merupakan versi tertua teks Melayu. Ia menyebutkan bahwa kedua hikayat itu dibacakan sebelum serangan Portugis di Melaka, untuk mempertebal keberanian orang Melayu berperang melawan Portugis.

Walaupun kemungkinan sekali jauh sebelum zaman Melaka, misalnya masa Sriwijaya, sudah ada sastra prosa tertulis dalam bahasa Melayu, namun bukti otentik tertulis tentang hal itu dari tradisi sejarah Melayu dan Jawa, tidak ada. Oleh karena itu, kita tidak dapat mencari titik awal penulisan jenis sastra tulis ini pada zaman itu. Dugaan bahwa hikayat itu sudah ter­masuk sastra Melayu yang biasa di Melaka diperkuat oleh terjemah­an teks-teks Jawa yang kiranya juga terjadi pada zaman Melaka. Pengaruh kebudayaan Jawa yang besar di Melaka pada zaman Majapahit, yang berupa hasil sastra Jawa seperti cerita-cerita Pandawa dan cerita-cerita Panji meru­pakan bagian yang tidak kecil dalam khazanah sastra Melayu (Sulastin, 1983: 74).

Dalam sastra Melayu, hikayat dituliskan dalam bentuk prosa (berlainan dengan hikayat dalam sastra Aceh yang berbentuk puisi) dengan huruf Arab-Melayu atau huruf Jawi, yaitu huruf yang dipakai untuk menulis bahasa Jawa atau bahasa Sumatera, dalam hal ini bahasa Melayu (Roolvink, 1975: 5). Dalam perkembangan sastra Melayu dari seni rakyat yang bersifat lisan ke tradisi sastra tulis, perlu dicatat bahwa pawang atau “yang empunya cerita” menyesuaikan diri menurut masa “sahibul hikayat”. Tampak pula bahwa unsur Islam meng­gan­tikan unsur Hindu, atau keduanya dipakai bersama-sama. Selain itu, hadirnya unsur asing lain berupa kosakata, kalimat, atau konsep menunjukkan adanya kontak buda­ya dan sastra yang intensif antara bangsa pendukung sastra Melayu dan bangsa-bangsa lain.

a. Tema dalam Puisi

Sastra Melayu sebagai salah satu bagian sastra Nusantara sangat luas ruang lingkupnya karena peran bahasa Melayu sebagai bahasa perantara di kawasan Nusantara. Karya-karya sastra yang menggunakan medium bahasa Melayu dapat menjangkau daerah-daerah lain di luar wilayah dan juga diciptakan oleh suku-suku bangsa yang bahasa ibunya bukan bahasa Melayu, yang memben­tang di kepulauan Nusantara dari barat sampai ke timur, seperti misalnya di Pasai, Aceh, Minang­kabau, Kalimantan, Jawa, Bali, dan Maluku. Jangkauan yang luas itu membuktikan penerimaan yang positif oleh masyarakat Indonesia terhadap karya sastra Melayu dalam berbagai bentuk sastranya, yang pada gilirannya memper­kaya sastra Melayu dengan konsep-konsep budaya daerah.

Khazanah sastra Melayu cukup beraneka ragam isinya, ser­ta berasal dari berbagai kurun waktu. Guna mempermudah peng­amat­an mengenai tema, perlu diadakan pengelompokan menurut isinya. Winstedt, sebagai ahli sejarah, memandang sastra Melayu dari sudut sejarah tanah Melayu dan menyusun bukunya tentang sejarah kesusastraan Melayu berdasarkan lapisan-lapisan menurut sejarah dan kebudayaan tanah Melayu. Dia menyatakan bahwa sastra Melayu asli merupakan sastra hasil pengaruh budaya India, budaya Jawa, dan budaya Islam. Walau benar bahwa sastra Melayu tampak mengandung unsur sastra asing, tetapi harus diakui pula bahwa sastra Melayu bukan hanya ramuan pengaruh asing (Sulastin, 1983: 12). Unsur kepri­badian Melayu tetap merupakan lapisan dasar dan menyeluruh pada tiap karya sastra Melayu.

Karya sastra Melayu ditulis dalam bentuk prosa dan puisi. Puisi lama yang merupakan pancaran masyarakat lama (Alisyahbana, 1950: 4) terdiri atas pantun dan syair, dua jenis puisi Melayu yang umum digemari dalam seluruh dunia Melayu. Pantun termasuk puisi rakyat yang dalam sebuah untaian ringkas memberi kesatuan bentuk dan makna yang bulat. Pantun bersifat sindiran akibat per­hubungan dua baris pertama, yang karena bunyi maupun per­lam­bangnya merupakan pembayangan bagi dua baris berikutnya (Teeuw, 1960: ix). Dengan pantun, bangsa Melayu menyatakan pikiran dan perasaannya. Sudah menjadi tradisi, pada upacara dan kesempatan tertentu, tua muda ber­pantun saling bersahutan. Kemahiran berpantun telah mendarah daging pada kebanyakan orang Melayu.

Dalam menyoroti kandungan pantun, masalah bentuk tidak lagi banyak dikaji di sini, hanya jenisnya yang perlu diamati untuk memahami maksudnya, meskipun tidak mudah membagi-bagi pantun menurut jenisnya, karena mungkin sebuah pantun dapat digolongkan ke dalam lebih dari satu jenis. Seni rakyat pantun da­pat dipakai oleh semua lapisan masyarakat dari segala umur. Oleh karenanya, terdapat pantun anak-anak, pantun orang muda, pantun orang tua, yang masing-masing dapat dirinci lagi dalam beberapa jenis turunan sesuai dengan tabiat dan peng­alaman orang-orang pada umur-umur itu.

Mengikuti pembagian pantun Melayu (Balai Pustaka, 1929:20), bagi anak-anak ada pantun bersukacita untuk bersuka-sukaan apa­bila anak menda­pat apa yang diinginkan dan pantun berduka­cita apabila anak tidak mendapat apa yang diinginkan. Bagi orang muda, ada pan­tun muda yang mengungkapkan tahap-tahap hubungan cinta kasih antara pemuda dan pemudi, yaitu waktu berkenalan, ber­­kasih-kasihan, bercerai apabila seseorang akan berjalan jauh, dan beriba hati apabila percintaan tidak berakhir dengan kebaha­giaan. Pantun orang tua mengungkapkan nasihat untuk berperi­laku baik dan berbudi pekerti luhur. Dengan pantun adat, orang tua menurunkan adat-istiadat yang dijunjung tinggi sepanjang masa, tidak lekang oleh panas, dan tidak lapuk oleh hujan. Dengan pantun agama, orang tua memelihara dan mempertebal kehidupan beragama, terutama di kalangan orang muda.

Dari pembagian jenis itu dapat ditarik pernyataan bahwa tradisi ber­pan­tun merupakan saluran yang baik bagi masyarakat Melayu untuk melahirkan pengalaman batin sesuai dengan keperluan dan tingkat kemampuan masing-masing. Tujuannya adalah agar ikatan yang erat antara berbagai lapisan masyarakat tetap terpelihara dan untuk saling memberikan kekuatan kehidupan rohani dan jasmani, karena masyarakat lama memiliki persatuan yang lebih rapat dan lebih padu dibanding masyarakat modern (Alisyahbana, 1950: 5).

Jenis puisi lainnya ialah syair. Syair adalah jenis puisi yang panjang dan bersifat epis. Untaiannya merupakan bagian yang tidak berdiri sendiri dengan kesatuan untai yang terdapat dalam ke­seluruhan yang lebih besar (Teeuw, 1960: x). Dalam syair tidak ter­dapat sampiran (perlambang pada dua baris pertama) dan isi (pada dua baris berikutnya dalam satu bait) seperti pada pantun. Oleh karena syair dipakai untuk mencatat segala peristiwa dan pe­ngalaman, maka isinya beraneka ragam dengan lukisan yang panjang. Orang membaca syair umumnya bukan untuk merasakan keindahan susunan lukisan dan bunyi, tetapi untuk mendengar ceritanya, meskipun ada juga syair yang lukisan dan bunyi tiap-tiap barisnya indah (Alisyahbana, 1950: 46).

Menurut isinya, syair dapat dibagi ke dalam enam golongan (Hooykaas, 1937: 66–74; Liaw Yock Fang, 1982: 293–316). Masing-masing bagian akan diberi contoh dan akan dibahas lebih lanjut. Beberapa golongan tersebut adalah:

1) Syair Panji: Syair Ken Tambuhan

2) Syair Romantis: Syair Bidasari

3) Syair Kiasan: Syair Ikan Terubuk Berahikan Puyu-puyu

4) Syair Sejarah: Syair Perang Mengkasar

5) Syair Saduran: Syair Damar Wulan

6) Syair Keagamaan: Syair Perahu

Dari pembagian di atas dapat diamati bahwa syair meliputi berbagai jenis cerita, baik yang asli Melayu maupun yang berasal dari luar yang sudah dicerna dan dirasakan sebagai milik sendiri, mengingat temanya cocok dengan pribadi bangsa Melayu. Cerita dari Jawa yang sangat populer di Tanah Melayu adalah cerita Panji. Meskipun syair dapat dipakai untuk cerita yang panjang, namun dalam cerita Panji yang disyairkan biasanya hanyalah sebagian cerita utuh dari cerita Panji yang ditulis dalam bentuk prosa. Dalam Syair Ken Tambuhan misalnya, hanya dimuat episode perkawinan tokoh utama, Inu putra Raja Koripan dengan Ken Tambuhan yang sebenarnya putri Raja Daha, tunangan Inu. Cerita berawal dengan kematian dua kekasih yang kemudian dihidupkan kembali oleh Batara Kala dan berakhir dengan perkawinan dan penobatan Inu sebagai raja Koripan dan Daha.

Seperti dalam cerita Panji yang lengkap, syair Panji dikenal de­ngan penyebutan raja empat kerajaan di Jawa; Jenggala, Daha, Singasari, dan Gegelang dengan putra-putrinya yang diper­tunangkan, yaitu tokoh utama Inu Kertapati dari Jenggala dan Raden Galuh Candra Kirana dari Daha, yang tidak jarang nama dan identitasnya diganti oleh campur tangan dewa-dewa dari kayangan. Cerita berakhir dengan kebahagiaan. Tema syair mengandung unsur inti bahwa kehendak dewata pasti berlaku, tetapi harus me­lalui aneka macam derita.

Dalam syair romantis Syair Bidasari diceritakan tentang se­rang­an burung garuda di negeri Kembayat. Raja mening­galkan negeri. Dalam pengembaraan, permaisuri melahirkan seorang putri bernama Bidasari, yang kemudian ditinggalkan di hutan dan diasuh oleh saudagar kaya. Putri Bidasari tumbuh sebagai ga­dis cantik yang diperistri oleh Raja Indrapura. Sementara itu, Raja Kembayat kembali ke negerinya dan memperoleh anak laki-laki. Anak laki-laki ini mencari dan bertemu dengan kakaknya yang sudah menjadi permaisuri Raja Indrapura. Raja Kembayat juga mendatangi Indrapura dan menyaksikan peristiwa baha­gia. Adik Bidasari kelak bertemu dengan putri yang sangat cantik yang dikurung oleh seorang jin. Jin dikalahkannya dan ia pun mengawini putri. Cerita berakhir dengan kebahagiaan. Tema yang men­dasari syair adalah segala sesuatu akan kembali ke asal­nya. Bidasari yang berasal dari kalangan raja, meskipun melalui pengalaman panjang dan pahit, akhirnya kembali pula ke asalnya.

Syair kiasan atau syair simbolik memuat suatu kebenaran berkait dengan keadaan sosial atau politik, tetapi biasanya juga me­rupakan suatu kemenangan atau kegagalan dalam percintaan (Hooykaas, 1951: 75–76). Peristiwa-peristiwa itu tidak dilukis­kan dengan terus terang, tetapi dikiaskan pada binatang dan bunga. Suatu gambaran tentang keanekaragaman syair simbolik diberikan oleh Overbeck dalam pembagiannya menurut beberapa golongan (Overbeck, t.t: 8), yaitu peristiwa negara (Syair Ikan Terubuk Berahikan Puyu-puyu), percintaan di kalangan atas (Syair Burung Pungguk), per­cintaan di kalangan saudagar (Syair Bunga Air Mawar), syair didaktik (Syair Bayan Budiman), dan syair Melayu berasal dari Jawa (Syair Buah-buahan).

Syair kiasan Ikan Terubuk Berahikan Puyu-puyu mengandung sindiran tentang anak Raja Malaka yang meminang putri Siak. Percintaannya bertepuk sebelah tangan karena ikan puyu-puyu takut bahwa lingkungan asal mereka yang berbeda kelak akan menimbulkan kesulitan. Ikan puyu-puyu tinggal di dalam kolam, sedangkan ikan terubuk tinggal di laut. Ia kemudian minta per­tolongan dewa. Permintaan itu dikabulkan dalam bentuk pohon yang ditan­capkan di tengah kolam. Ikan puyu-puyu naik ke atas pohon. Ikan terubuk menyerang kolam. Semua ikan pengikutnya tertangkap jala. Ikan terubuk dapat meloloskan diri. Ia kembali dan menye­rah kepada takdir Tuhan, meskipun harus menang­gung rindu. Syair ini mengandung tema ketidakcocokan antara warga yang berbeda asal usulnya. Dengan kata lain, tradisi yang berbeda tidak akan atau sulit bertemu.

Dalam syair sejarah diceritakan tentang pengalaman atau pe­ristiwa yang pernah terjadi dalam masyarakat. Pada umumnya, pe­ristiwa perang merupakan pokok pengisahan, seperti dalam Syair Perang Mengkasar. Dalam syair ini diceritakan asal mula terjadinya peperangan antara orang Makasar dan orang Belanda. Disebutkan nama Sipelman dari pihak Belanda dan Raja Pahaka anak Raja Bugis yang sama-sama menyerang Makasar. Orang Makasar kalah. Sultan Ternate membantu Belan­da, sedangkan Sultan Goa melawan Belanda. Bantuan Kompeni Belanda datang. Walau terus-menerus diserang Belanda, tetapi Makasar tidak dapat ditaklukkan oleh kompeni. Kompeni menan­datangani perjanjian perdamaian dengan orang Makasar. Tidak lama kemudian, Belanda kembali menyerang Sanderabone. Perang berkobar lagi. Seluruh kota Makasar terbakar. Orang Makasar mengundurkan diri ke Goa. Tema syair perang ini adalah hanya persatuan yang kokoh yang mampu menghan­curkan musuh.

Syair saduran merupakan gubahan dari cerita Jawa atau cerita wayang. Cerita pada umumnya tidak banyak berbeda de­ngan cerita asalnya dalam bahasa Jawa, seperti pada Syair Damar Wulan. Damar Wulan, anak bekas Patih Majapahit, dijadikan tukang kuda oleh pa­man­nya. Oleh karena menjalin cinta dengan anak pamannya, Damar Wulan dimarahi oleh pamannya. Mereka berdua kemudian dipenjara.

Ratu Majapahit, Kencana Wungu, dilamar Raja Blambangan, Menak Jingga. Oleh karena lamarannya ditolak, Menak Jingga marah dan menyerang Majapahit. Ratu Majapahit bermimpi bahwa hanya Damar Wulan yang dapat melawan Menak Jingga. Damar Wulan di­panggil dan diminta membawa pulang kepala Menak Jingga. Dalam peperangan, Damar Wulan mati. Ia dihidupkan kembali oleh istri-istri Menak Jingga. Damar Wulan berhasil mencuri senjata sakti Menak Jingga berupa besi kuning dan kemudian digunakan untuk membunuhnya. Kepala Menak Jingga dirampas oleh dua orang anak pamannya yang dengki. Damar Wulan dibunuh, tetapi dihidupkan kembali oleh kakek­nya, sang Pertapa. Damar Wulan membawa barang rampasan kembali ke Majapahit dan dikawinkan dengan Ratu Kencana Wungu. Ia kemudian dinobatkan sebagai Raja Majapahit. Negeri Majapahit makmur dan sejahtera. Cerita ini berakhir dengan kebahagiaan. Tema cerita adalah penderitaan dan kejujuran mengantarkan seseorang ke tempat yang terhormat, sedangkan kedengkian hanya berakhir dengan kenistaan belaka.

Syair keagamaan menceritakan berbagai aspek kehidupan be­ragama, baik di dunia maupun kegunaannya di akhirat, di­mulai dari riwayat hidup para Nabi, misalnya Syair Nur Muham­mad, Syair Nabi Allah Yusuf. Syair-syair tua yang bersifat keagamaan adalah syair Hamzah Fansuri, yang pada umumnya melambangkan hu­bungan Tuhan dengan manusia, misalnya Syair Perahu yang me­lambangkan tubuh manusia sebagai perahu yang berlayar di laut. Isi syair itu merupakan seruan kepada ka­um muda untuk mengenali diri, karena hidup di dunia tidak lama, yang kekal hanya kehidupan akhirat. Agar perahu berlayar laju, maka perlengkapan, alat, be­kal air, dan makanan harus cu­kup. Muara yang dilalui sempit, se­mentara ikan dan hiu me­nye­rang. Angin keras disertai ombak riuh datang, sedang­kan pulau tempat berlabuh jauh. Lautnya deras dan bertambah da­lam, tetapi perahu tidak boleh tenggelam. Tali yang teguh adalah Lila (Laailaaha Ilallaahu) yang akan menyelamatkan perahu dan mendekatkan hamba dengan Tuhan.

Tema syair ini adalah hubungan manusia dengan Tuhan, yaitu manusia sama dengan Tuhan. Ajaran tasawuf yang pan­teistis ini ditentang oleh Nuruddin Arraniri yang memegang te­guh ajaran tauhid dan ajaran bahwa Tuhan itu pencipta alam semesta. Jadi, Tuhan tidak sama dengan manusia.

b. Tema dalam Prosa

Liaw Yock Fang (1985) membagi bentuk prosa ke dalam beberapa golongan, yaitu.

1) Epos India: Hikayat Sri Rama

2) Cerita Panji dari Jawa: Hikayat Panji Kuda Semirang

3) Hikayat Zaman Peralihan: Hikayat Si Miskin

4) Kesusastraan Zaman Islam: Hikayat Bulan Berbelah

5) Cerita Bingkai: Hikayat Bakhtiar

6) Sastra Keagamaan: Sirat Al-Mustakim

7) Sastra Sejarah: Misa Melayu

8) Undang-undang Melayu: Undang-undang Malaka

Pembagian di atas memperlihatkan aneka ragam prosa Mela­yu yang terdiri dari prosa dari luar, dan prosa asli yang berkembang menurut zaman dan macam pokok pembicaraannya. Penggolongan itu diikuti untuk memudahkan peng­amatan terhadap tema contoh tiap-tiap kelompok.

Kisah Rama di tanah asalnya, India, dan di luarnya sangat digemari, terbukti dari banyaknya bentuk seni yang menampilkan tokoh Rama seperti dalam seni drama, seni pewayangan, seni pahat (antara lain pada relief candi Prambanan), dan seni sastra. Dalam khazanah sastra Melayu, Hikayat Sri Rama mengambil tempat yang cukup terkemuka dan penelitian terhadapnya pun telah banyak di­lakukan, diawali oleh para peneliti Barat pada abad ke-19. Menurut penelitian Achadiati (1980: 9–10), Hikayat Sri Rama didasari oleh ajaran etika yang terkandung dalam se­genap unsur cerita sebagai leitmotiv. Inti ajaran itu berkisar pada sikap dan kelakuan ideal se­orang raja yang dijabarkan dalam tujuh sifat, yaitu kearifan, ke­adilan, kasih, sifat-sifat lahiriah yang menarik, keberanian demi harga diri, keahlian perang, dan pertapa. Semua sifat ini terpadu dalam seorang “Ratu Adil”.

Dalam Hikayat Panji Kuda Semirang dapat diamati kelahiran Panji sebagai penjelmaan makhluk kayangan yang membayang-kan hubungan dengan makrokosmos, yang pada gilirannya melam­bangkan kekeramatan, kedudukan paling tinggi, dan keunggulan. Penutup bagian suatu cerita mengandung unsur di­dak­­tis bahwa penderitaan, perjuangan, dan pengorbanan akan berakhir dengan kejayaan gemilang. Pahlawan dilukiskan mem­pu­nyai watak sem­purna, jasmaniah dan batiniah. Panji digam­barkan sebagai tokoh teladan penghubung rakyat-raja dewa yang menunjukkan ikatan akrab antara mikrokosmos dan makro­kosmos, yang memantapkan prinsip keutuhan. Panji memerintah dengan adil dan murah, dalam suka dan duka memuja leluhur­nya (Sulastin dalam Baroroh et. al., 1982: 230–47).

Tema pokok cerita-cerita Panji adalah kesetiaan dalam hu­bungan kenegaraan dan kemanusiaan dengan tema-tema pendu­kung pengembaraan dan peperangan disertai peng­alaman-pengala­man pedih sebagai upacara pendewasaan diri. Tema pokok berisi berbagai implikasi berupa dengki, fitnah, dendam, persaingan, tipu daya, dan bermacam-macam intrik lainnya yang berakhir dengan kemenangan di pihak yang baik dan benar atas keputusan Dewata Mulia Raya.

Hikayat Si Miskin digolongkan dalam zaman peralihan dari zaman Hindu ke Islam. Dalam cerita peralihan terdapat unsur-unsur Hindu seperti keinderaan dan pemujaan kepada para dewa dan raja-raja yang kembali ke kayangan, di samping pemakaian kata-kata dan eksordium dalam bahasa Arab.

Hikayat Si Miskin mengisahkan adanya raja keinderaan yang terkena sumpah Batara Kala yang kemudian turun ke bumi dan hidup menderita sebagai si Miskin. Kelahiran anaknya mengubah nasib si Miskin, yang dengan memuja kepada dewa menjadi raja di negeri yang penduduknya ramai dan banyak dikunjungi saudagar. Seperti biasanya, hal ini menimbulkan dengki dan fitnah. Si Miskin terkena fitnah ahli nujum yang curang. Anak-anaknya dibuang, ke­rajaan si Miskin terbakar, dan segala bentuk penderitaan ber­ulang. Akhirnya, dengan pertolongan para dewa, negeri si Miskin berdiri lagi dan menjadi makin makmur. Seluruh keluarga berkumpul kembali dan hidup bahagia. Raja yang dengki tewas dalam pe­perangan, sedangkan anak si Miskin dinobatkan menjadi sultan. Tema cerita ini ialah yang curang dikalahkan oleh yang jujur, ke­jahatan dikalahkan kebaikan, dan permohonan dengan memuja kepada Dewata Raya pasti dikabulkan.

Dalam kesusastraan zaman Islam, terdapat kisah Hikayat Bulan Berbelah, yang disebut juga Hikayat Mukjizat Nabi. Dalam hikayat ini, Nabi memperlihatkan mukjizatnya kepada Raja Habib, bahwa ia mampu melakukan beberapa hal yang mustahil setelah bersembahyang di Bukit Qaf, yaitu Nabi memanggil bulan agar mengucapkan syahadat, bulan harus masuk ke lengan baju Nabi yang kanan dan keluar lagi dari lengan baju kiri, selanjutnya bulan harus berbelah dan bersatu kembali. Atas kebesaran Tu­han, anak perempuan Raja Habib yang tidak mempunyai kaki dan tangan kemudian beranggota badan lengkap lagi. Raja Habib makin yakin akan kebesaran Tuhan dan keagungan agama Islam. Cerita ini mengandung tema penyebaran agama Islam.

Hikayat Baktiar mewakili cerita berbingkai, yaitu cerita yang di dalamnya terjalin cerita-cerita lagi yang disampaikan beberapa hari untuk menunda hukuman raja. Jadi, cerita-cerita ini disisipkan di antara cerita awalnya. Cerita ini mengisahkan seorang raja yang me­ninggalkan istananya untuk menghindari perang saudara. Da­lam pengembaraan, permaisuri melahirkan seorang putra yang ditinggalkan di hutan. Putra ini diasuh saudagar kaya dan diberi nama Bakhtiar. Bakhtiar tumbuh menjadi anak yang pandai mengaji dan membaca hikayat. Oleh saudagar tersebut, Bakhtiar dibawa menghadap raja di istananya yang baru, setelah raja itu dipilih gajah sakti untuk menggantikan raja sebuah negeri yang sudah wafat. Bakhtiar disuruh tinggal di istana dan karena kepandaiannya ia mendapat kepercayaan dari raja menangani tugas-tugas yang penting. Hal ini menim­bulkan dengki para menteri. Fitnah di­lan­carkan. Bakhtiar akan dibunuh, tetapi ia menangguhkan hukum­annya dengan mengi­sah­kan cerita-cerita selama beberapa hari lama­nya mengenai dengki, fitnah, dan hukuman. Saudagar dipanggil raja untuk menjelaskan siapa sebenarnya Bakhtiar itu. Setelah raja menda­pat keterangan, Bakhtiar dinobatkan menjadi raja. Tema ce­rita bingkai ini adalah jangan mudah termakan fitnah.

Sastra keagamaan disebut juga sastra kitab yang meliputi ajar­an Islam bersumberkan ilmu tasawuf, ilmu kalam, dan ilmu fikih. Tokoh-tokoh sastra kitab yang terkenal adalah Hamzah Fansuri, Syamsuddin as Sumatra‘i, Nuruddin Arraniri, Abdur­rauf as Singkili, dan sebagainya. Dalam ruang lingkup pembicaraan yang ter­batas ini yang diamati hanyalah sebuah contoh sastra kitab Sirat Al-Mustakim (jalan yang lurus) karya Nuruddin Arraniri, yang hing­ga sekarang masih populer. Karya ini memberikan pedoman dalam melaksa­nakan peraturan-peraturan ibadah agama Islam, agar jangan ada ajaran akidah yang sesat. Bab dan pasal-pasalnya diuraikan secara berurutan, yaitu bab “Rukun Ibadat” (sembahyang, puasa, zakat, haji), bab “Perburuan dan Menyembelihnya”, dan bab “Hukum Makanan yang Halal dan yang Haram” (Chama­mah, 1982: 157). Tema karya ini adalah menguatkan iman atas dasar ajaran akidah Islam.

Dalam sastra sejarah Misa Melayu diuraikan silsilah Raja-raja Perak pada abad ke-18 yang menceritakan kedatangan orang-orang Belanda membeli timah dan mendirikan loji per­dagangan di negeri Perak. Diceritakan pula tentang penduduk Perak yang terdiri atas orang-orang Melayu, Tamil, Bugis, Mi­nang­kabau, Belanda, Cina, dan India. Keanekaragaman pendu­duk menandakan kemakmuran dan kesejahteraan negeri Perak, terutama di bawah pemerintahan Sultan Iskandar Zulkarnaen. Sultan inilah yang dalam Misa Me­layu ditonjolkan sebagai pah­lawan (misa) Melayu dengan sifat-sifat yang ideal yang memper­satukan kembali dan memperkuat Ke­sultanan Perak yang pernah terpecah menjadi dua bagian akibat perang (Sulastin, 1983: 15). Tema karya tersebut ialah persatuan dan kesatuan menjadikan negeri Perak jaya gemilang.

Dalam Undang-undang Melayu tidak dijumpai undang-un­dang menurut pengertian modern. Undang-undang Melayu lebih me­nekankan pada adat kebiasaan orang-orang Melayu yang dibentuk dari zaman ke zaman. Dalam undang-undang itu terbayang alam pikiran orang Melayu sepanjang masa yang mereka hayati dan mendarah daging dalam bentuk peribahasa (Liaw Yock Fang, 1982: 270). Untuk memberi gambaran menge­nai masalah yang diundang-undangkan, di bawah ini disebutkan contoh dari Undang-undang Malaka yang tertua dan terpenting. Jumlah naskah kurang dari empat puluh empat buah (Fang, 1976: 9). Undang-undang Malaka juga dikenal sebagai Risalah Hukum Kanun yang terdiri atas dua puluh tujuh pasal (Fang, 1982: 273–276), yang me­mu­at antara lain syarat menjadi hamba raja, hukum membunuh hamba raja, hukum bahasa, hukum jenazah, hukum membunuh orang, syarat menjadi raja, hukum menetak dengan menampar orang, hukum pencuri masuk kampung, hukum menawan anak atau istri orang, hukum menjual buah-buahan, hukum tanah perumahan, hukum orang ber­cocok tanam, hukum orang yang berhutang, dan lain-lain. Dari berbagai macam hukum tersebut dapat diamati bahwa orang Melayu ingin mengatur segala se­suatu dengan sebaik-baiknya, dan undang-undang merupakan pegangan sikap dan perilaku yang dipandang paling baik. Pemikiran dasar penulisan undang-undang itu ialah masyarakat akan adil, makmur, dan sentosa lahir batin apabila didasarkan atas hukum-hukum yang mantap.

3. Penutup

Dari pengamatan secara menyeluruh terhadap khazanah sastra Melayu seperti yang dipaparkan dalam bagian sebelum­nya, kiranya telah diperoleh gambaran sekilas tentang kehidupan bersastra orang Melayu meskipun kurang luas dan mendalam dengan contoh yang juga terbatas. Melalui seni sastra dalam bentuk yang sesuai dengan tujuannya diungkapkan pengalaman batin orang yang beraneka ragam, yang berhubungan dengan kepercayaannya kepada dunia gaib dan sakti, keluhuran budi, kesengsaraan dan kebahagiaan, ke­setiaan, kejujuran, perbuatan tercela dan terpuji, kerendahan hati terhadap sesamanya, lebih-lebih terhadap kekuasaan tertinggi yang menguasai alam semesta, dan masih banyak lainnya lagi.

Dari contoh-contoh di atas tampak suasana yang penuh ke­sungguhan, yang tidak menutup kenyataan bahwa orang Melayu pada waktu yang tepat membuka suasana santai penuh humor. Hal ini tampak dari cerita-cerita jenaka yang kaya akan lelucon yang multifungsi sebagai penghibur, sebagai penyegar semangat untuk menempuh hidup dalam dunia nyata yang cukup beronak duri, sebagai medium pendidikan yang mudah dicerna oleh masyarakat sederhana, dan sebagai sindiran terhadap orang yang berkuasa atau suatu keadaan dalam masya­rakat, yang tepat sasaran, tanpa menimbulkan efek samping berupa hukuman.

Seperti tampak pada pembicaraan sebelumnya, setiap bentuk dan jenis cerita mengandung tema yang melandasi tiap-tiap cerita, tetapi di atas tema-tema itu masih teraba lapisan tema pokok yang dapat dipandang sebagai pembagi persekutuan terbesar dalam ke­seluruhan cerita. Dengan kata lain, tema merupakan tujuan ter­tinggi dari tiap pengungkapan batin. Orang Melayu sangat menjunjung tinggi pemeliharaan kehi­dupan rohani. Maka, ajaran moral merupakan fokus sentral dalam kehidupan bersastra. Fokus utama ini didukung oleh fokus-fokus atau tema-tema turunan, seperti yang telah disebut­kan.

Sebagai contoh, yang menjadi titik pusat perhatian dalam wira­carita adalah unsur kepahlawanan dengan kisah-kisah pertem­puran dan adegan-adegan perang yang dasyat, namun, apabila diteliti lebih seksama, terlihatlah tujuan akhir wiracarita itu, yakni kesetiaan pada kebenaran, keadilan, keluhur­an, negara, dan raja sebagai pan­caran sumber kehidupan yang paling tinggi, sebagaimana yang termuat dalam Hikayat Hang Tuah, bahwa raja adalah wakil Allah di dunia, yaitu raja yang menyandang atribut sifat-sifat yang ideal.

Dalam pengejawantahan kandungan batin melalui tradisi sastra Melayu dapat ditangkap tema-tema utama, yaitu kehi­dupan mental spritual yang dijunjung tinggi dari masa ke masa karena nilainya abadi. Tema utama inilah yang merupakan lan­dasan kokoh dalam pembangunan bangsa dan negara, yang hendak memantapkan identitasnya di atas kepribadian dan waris­an budaya sendiri.

*)Catatan:

Naskah diambil dari Prosiding Seminar “Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya” yang diselenggarakan pada tanggal 17 – 20 Juli 1985, di Tanjung Pinang, Riau, Indonesia.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, lahir di Yogyakarta pada tanggal 23 November 1924 dan meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 9 Mei 1996.

Tulisan ini dimuat untuk menghargai jasa-jasa Beliau yang amat besar pada dunia Melayu, khususnya selaku Peneliti Sastra Melayu yang dilakukan sepanjang hayatnya.

Buku Beliau yang amat berharga (dari disertasi) adalah “Hikayat Hang Tuah : Analisa Struktur dan Fungsi” (1983)


Dibaca : 5.878 kali.

Tuliskan komentar Anda !