Jumat, 31 Oktober 2014   |   Sabtu, 7 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 811
Hari ini : 3.049
Kemarin : 21.335
Minggu kemarin : 154.939
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.292.148
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Sutardji Calzoum Bahri

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Sutardji Calzoum Bachri (Pujangga), dilahirkan di Rengat, Indragiri Hulu pada tanggal 24 Juni 1941. Ia adalah anak ke lima dari sepuluh orang bersaudara. Pada tahun 1982, ia menikah dengan seorang gadis pilihannya bernama Maryam Linda.

Riwayat pendidikan Sutardji dimulai sejak SD, SMP, SMA dan kemudian melanjutkan ke Fakultas Sosial Politik (Sospol), Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjadjaran Bandung, namun tidak selesai. Selain menempuh jalur pendidikan formal, Sutardji juga telah mengikuti berbagai program pendidikan non-formal seperti: peserta Poetry Reading International di Rotterdam (tahun 1974) dan mengikuti International Writing Program di IOWA City Amerika Serikat selama satu tahun (tahun 1975). Ia juga pernah mengikuti penataran P4 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta tahun 1984, dan lulus sebagai peringkat pertama dalam 10 terbaik.

Sutardji mulai menulis di media cetak sejak berumur 25 tahun. Pada tahun 1971, sajaknya berjudul “O” yang merupakan kumpulan puisinya yang pertama, muncul di majalah sastra Horison. Pada tahun berikutnya, di majalah yang sama, karyanya berjudul “Amuk” kembali dimuat. Sutardji Calzoum Bachri pernah bekerja sebagai redaktur di majalah sastra Horison dan majalah mingguan Fokus. Bahkan, sejumlah sajaknya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harry Aveling dan diterbitkan dalam antologi Arjuna in Meditation (Calcutta, India), Writing from the World (Amerika Serikat), Westerly Review (Australia) dan dalam dua antologi berbahasa Belanda: Dichters in Rotterdam (Rotterdamse Kunststichting, 1975) dan Ik wil nog duizend jaar leven, negen moderne Indonesische dichters (tahun 1979).

Di kalangan para pujangga, Sutardji Calzoum populer sebagai “Presiden Penyair Indonesia” dan merupakan salah satu tokoh pelopor penyair angkatan 70-an. Selain sebagai penulis syair, ia juga piawai dalam membacakan puisi (penyair). Ia sering tampil membacakan puisi di atas panggung, terutama di Jakarta. Dalam berpuisi, ide atau opini dalam sajak-sajak yang disampaikan tidak hanya berupa isi pikiran, tapi juga menyangkut suasana batin dan naluri. Di samping itu, puisi yang dibacakan mudah dicerna oleh para pendengarnya.

2. Pemikiran

Sebagai seorang pujangga, Sutardji dalam menciptakan atau menulis sebuah puisi cenderung membebaskan kata-kata yang akan digunakan. Artinya, mengembalikan kata pada awal mulanya. “Kata” adalah pengertian itu sendiri, bukan alat untuk mengantarkan pengertian. Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk.

Selanjutnya, Sutardji menjelaskan bahwa kalau “kata” dibebaskan, kreativitas pun akan muncul sendiri, karena kata-kata itu bisa menciptakan dirinya sendiri, menentukan kemauan dirinya sendiri, meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, dan sebagainya. Singkatnya, “kata” pada awal mulanya adalah “mantera.” Maka menulis puisi bagi Sutardji adalah mengembalikan “kata” kepada “mantera.” Di samping itu, dalam beberapa sajak atau puisinya, banyak bernafaskan ketuhanan dan nilai-nilai religius.

3. Karya-karya

Sebagai sosok sastrawan, Sutardji Calzoum Bachri telah melahirkan beberapa karya berupa kumpulan sajak yang telah dibukukan, yaitu:

  • O, diterbitkan oleh Yayasan Indonesia (tahun 1971).
  • Kucing, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1973)
  • Amuk (tahun 1977)
  • Kapak
  • O, Amuk, Kapak, antologi, diterbitkan oleh Sinar Harapan (tahun 1981)
  • Aku Datang Padamu.
  • Perjalanan Kubur David Copperfield.
  • Realites’90 Tanah Air Mata.
  • Dan lain-lain.

4. Penghargaan

Atas karya dan kepiawaiannya menulis dan membaca puisi, Sutardji Calzoum Bachri telah dianugerahi beberapa penghargaan seni, yaitu:

  • Anugerah Seni, dari Pemerintah Republik Indonesia (tahun 1990)
  • Anugerah Seni atas karyanya berjudul Amuk, dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) (tahun 1977)
  • Anugerah Sastra Chairil Anwar (tahun 1998),
  • Anugerah Sastra Asia Tenggara (South East Asia Writer Awards), dari Ratu Sirikit, Thailand (tahun 1979).
  • Seniman Perdana, dari Dewan Kesenian Riau (tahun 2001).
  • Sebagai Pelopor Penyair Angkatan “70.”
Kredit foto:
www.ukzn.ac.za

Dibaca : 14.663 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password