Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 1.096
Hari ini : 6.893
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.269.829
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Perkembangan agama Islam di Sulawesi Selatan tidak terlepas dari sepak terjang para tokoh dan ulama dalam menyebarkan nilai-nilai ajaran Islam. Salah satu di antaranya adalah Anregurutta[1] H. Abdurrahman Ambo Dalle (selanjutnya ditulis Ag. H. Ambo Dalle). Menurut Nurhayati Djamas (dalam Nasruddin Anshoriy: 2009: xxvii), Ag. H. Ambo Dalle adalah simbol anak zaman. Beliau hidup dalam empat zaman, mulai dari zaman feodal, Belanda, Jepang hingga zaman kemerdekaan. Dengan kebesaran serta kecerdasan intelektual dan sosial yang dimilikinya, beliau menapaki sejarah kehidupannya dan menyiasati setiap dinamika zaman agar tidak tertelan oleh arus kehidupan.

Ag. H. Ambo Dalle dilahirkan dari keluarga bangsawan yang terpandang sekitar tahun 1900 M, di Desa UjungE, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Puang Ngati Daeng Patobo dan ibunya bernama Puang Candara Dewi. Kedua orang tua beliau memberinya nama Ambo Dalle, yang berarti bapak yang memiliki banyak rezeki, dengan harapan kelak hidup beliau senantiasa berlimpahan rezeki. Sementara nama Abdurrahman diberikan oleh seorang ulama bernama Gurutta. H. Muhammad Ishak ketika beliau berusia 7 tahun.

Meskipun sebagai anak tunggal, Ag. H. Ambo Dalle tidak dibiarkan menjadi anak yang manja. Sejak dini, beliau senantiasa ditempa dengan jiwa kemandirian dan kedisiplinan. Beliau tidak hanya dididik dan dibesarkan dalam lingkungan yang religius, melainkan juga dalam dinamika budaya Bugis yang sangat kental. Di masa kecilnya, beliau belajar membaca Al-Quran kepada bibi dan kedua orang tuanya.

Setelah beberapa tahun menghimpun berbagai ilmu agama—seperti ilmu tajwid, qiraah sab`ah (baca pituE), nahwu-sharaf, tafsir, dan menghafal Al-Quran 30 juz—dan mengenyam pendidikan di Volk School (Sekolah Rakyat), serta kursus bahasa Belanda di HIS Sengkang, Ag. H. Ambo Dalle masuk Sekolah Guru Syarikat Islam di Kota Makassar untuk memperluas cakrawala keilmuannya, terutama wawasan modernitas. Di sekolah yang dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto itu beliau memperoleh cara belajar dengan metodologi baru. Berbekal ilmu dan wawasan yang matang, beliau kembali ke Wajo (Sengkang) dan merintis pendidikan agama Islam dengan metode sekolah (Anshoriy, 2009: 17).

Di sela-sela kesibukannya mengajar, Ag. H. Ambo Dalle terus mendalami ilmu agama Islam dengan belajar kepada ulama-ulama asal Wajo alumni Mekah, seperti H. Syamsuddin, Sayid Ali Al Ahdal, dan Haji Ambo Omme. Pada tahun 1928, peluang beliau untuk memperdalam ilmu semakin terbuka tatkala Gurutta H. Muhammad As`ad bin Abdul Rasyid Al-Bugisy, seorang ulama keturunan Bugis yang lahir dan menetap di Mekah, kembali ke negeri leluhurnya di Wajo. Dari beliaulah, Ag. H. Ambo Dalle banyak memperoleh curahan ilmu agama. Gurutta H. Muhammad As`ad atau akrab dipanggil Gurutta Puang Aji Sade datang ke Wajo dalam usia yang yang masih muda belia, yakni 21 tahun (Anshoriy, 2009: 14-15). Hal ini berarti Ag. H. Ambo Dalle tujuh tahun lebih tua dari gurunya. Namun demikian, dengan keikhlasan dan kerendahan hati yang diberikan oleh Allah SWT., Ag. H. Ambo Dalle tidak pernah merasa malu berguru kepada pemuda berilmu itu.

Berkat kecerdasannya, Ag. H. Ambo Dalle diangkat menjadi asisten Gurutta H. Muhammad As`ad. Sejak itulah beliau mulai meniti karirnya sebagai pengajar. Hubungannya dengan sang Guru bukan hanya sebagai guru dan murid, tetapi juga sebagai sahabat yang siap untuk memperjuangkan agama Allah di tanah Bugis. Pada tahun 1930, atas sokongan moril maupun materiil dari Arung Matoa Wajo (Raja Wajo) serta Arung Lili, kedua ulama cerdas itu pun mendirikan sebuah pendidikan formal dengan sistem madrasi/klasikal yang diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Sengkang. Berkat pengalaman belajar yang diperoleh dari Sekolah Guru Syarikat Islam di Kota Makassar, Ag. H. Ambo Dalle dipercaya untuk memimpin madrasah tersebut (Anshoriy, 2009: 50).

Pada tahun 1935, Ag. H. Ambo Dalle berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Selama sembilan bulan berada di kota pusat peribadatan umat Islam itu, beliau sempat mendalami agama Islam, salah satunya ilmu tasawuf. Beliau belajar tentang rahasia kerohanian kepada Syekh Ahmad Samsi, seorang guru besar ilmu tasawuf Kota Mekah pada saat itu. Dari sang Guru, selain mendapat hadiah kitab Khaziratul Asraril Qubra Ag. H. Ambo Dalle juga memperoleh ilmu khas, yang tidak setiap orang dapat mempelajarinya, yaitu tentang rahasia kewalian yang telah dicapai oleh para Waliyullah zaman dulu (Anshoriy, 2009: 53).

Sepulang dari Mekah, Ag. H. Ambo Dalle kembali memimpin MAI dan mendapat tawaran dari berbagai pihak untuk mendirikan lembaga pendidikan MAI di daerah lain, salah satunya datang dari pemerintah Swapraja Soppeng Riaja yang berkedudukan di Mangkoso, Kabupaten Barru. Dalam hal ini, H. Muh. Yusuf Andi Dagong sebagai kepala pemerintahan Swapraja Soppeng Riaja bersama kadhinya, H. Kittab, mengajukan permohonan kepada Anregurutta As`ad agar mengirim Ag. H. Ambo Dalle untuk menjadi pengajar inti di Mangkoso. Pada awalnya, Anregurutta As`ad menolak surat permohonan tersebut karena dikhawatirkan akan menghambat kemajuan MAI di Sengkang. Setelah melalui negoisasi yang alot, akhirnya keputusan untuk menerima permohonan tersebut dikembalikan kepada Ag. H. Ambo Dalle, dan beliau pun menerima permohonan tersebut setelah melalui shalat istikharah.

Pada tanggal 21 Desember 1938, yang bertepatan dengan Rabu 29 Syawal 1357 H., Ag. H. Ambo Dalle hijrah ke Mangkoso dengan memboyong seluruh keluarganya dan beberapa muridnya yang setia, seperti Ismail Kutai, Harun Ar-Rasyid, Muhammadiyah, dan lain-lain. Setibanya di Mangkoso, beliau memulai pengajian dengan sistem sorogan (duduk bersila), dan kemudian mendirikan pesantren dan madrasah dengan tingkatan tahdiriyah, ibtidaiyah, dan tsanawiyah. Lembaga itu diberi nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) Mangkoso. Meskipun memakai nama yang sama, lembaga itu bukanlah cabang dari MAI Sengkang, karena Anregurutta As`ad tidak menginginkan MAI Sengkang mempunyai cabang di daerah lain. Di dalam mengelola lembaga yang baru didirikannya itu, Ag. H. Ambo Dalle dibantu oleh dua belas santri seniornya. Seluruh fasilitas lembaga, termasuk biaya hidup guru-gurunya ditanggung oleh pemerintah Swaparaja Soppeng Riaja dan swadaya masyarakat Mangkoso.

Berkat keuletan Ag. H. Ambo Dalle dalam memimpin, serta kreativitasnya dalam membuat kebijakan dan program-program baru yang rasional dan edukatif, dalam kurun waktu dua tahun saja MAI Mangkoso mengalami perkembangan yang cukup pesat. Para santri pun berdatangan dari hampir seluruh penjuru Sulawesi Selatan, bahkan ada beberapa santri datang dari luar daerah, seperti dari Kalimantan. Di samping itu, banyak pula permintaan untuk membuka cabang di luar daerah. Demi kemajuan lembaga yang dikelolanya, beliau pun mengambil kebijakan mendirikan cabang-cabang baru bagi MAI Mangkoso di berbagai daerah. Menurut Anshoriy, pengambilan kebijakan oleh Ag. H. Ambo Dalle tersebut bukan sekadar ingin memenuhi berbagai permintaan, tetapi yang lebih penting adalah memperbaiki kualitas umat, lingkungan, serta pola pikir masyarakat (Anshoriy, 2009: 65). Dengan demikian, pesantren MAI Mangkoso bukan hanya bergelut di bidang pendidikan, melainkan juga di bidang dakwah. Para santri tidak hanya dibekali pelbagai disiplin ilmu agama, tetapi juga metode dakwah yang efektif.

Dengan dukungan dari pemerintah Swapraja Soppeng Riaja, pembinaan tenaga pengajar dan juru dakwah sebagai jalan untuk membuka cabang ke daerah-daerah terus digalakkan tanpa menemui hambatan yang cukup berarti. Namun, ketika penjajah Jepang masuk di daerah Sulawesi Selatan (1941-1943 M), MAI Mangkoso pun mulai menemui kesulitan. Serdadu Jepang selalu mengawasi dan bahkan tidak mengizinkan pengajaran dilakukan di madrasah, sehingga para guru tidak lagi memiliki kebebasan dalam mengajar, demikian pula ruang gerak para muballigh pun dipersempit. Melihat situasi tersebut, Ag. H. Ambo Dalle segera mengambil kebijakan agar pelaksanaan pelajaran dilakukan di masjid-masjid dan rumah-rumah guru. Atas kebijakan tersebut, segala aktivitas belajar-mengajar pun luput dari pengawasan serdadu Jepang, bahkan beberapa petinggi Jepang yang telah mengenal Ag. H. Ambo Dalle menaruh hormat dan menganggap beliau sebagai guru dan orang tua mereka (http://darisrajih.wordpress.com).

Situasi sulit tersebut tidak berlangsung lama. Pelaksanaan pelajaran di pesantren dan madrasah kembali berjalan normal. Setelah kemerdekaan RI, MAI Mangkoso kembali dihadapkan pada kondisi yang sulit, yaitu ancaman yang datang dari Belanda melalui agresi Sekutu/NICA yang dikomandoi Raymond Westerling. Rakyat dari berbagai pelosok bangkit untuk mengadakan perlawanan, sehingga terjadilah peristiwa yang dikenal sebagai Peristiwa Korban 40.000 Jiwa di Sulawesi Selatan, yang berlangsung sejak Desember 1946 hingga Februari 1947 (http://id.wikipedia.org). Perstiwa tersebut ternyata membawa dampak bagi MAI Mangkoso. Banyak santri Ag. H. Ambo Dalle yang dikirim ke cabang-cabang di berbagai daerah menjadi korban keganasan Westerling.

Situasi demikian tidak menyurutkan semangat Ag. H. Ambo Dalle untuk mengembangkan MAI. Pada tahun 1947, beliau bersama beberapa ulama almuni MAI Sengkang, di antaranya Anregurutta H. Daud Ismail dan Anregurutta H. M. Abduh Pabbajah mengadakan pertemuan di Soppeng dalam rangka membentuk sebuah organisasi yang mampu menjadi wadah perjuangan umat Islam Sulawesi Selatan agar tersebas dari sindrom keterbelakangan dan belenggu penjajah (Anshoriy, 2009: 72). Pertemuan yang berlangsung selama tiga hari dan melalui perdebatan sengit tersebut melahirkan sebuah organisasi yang diberi nama Darud Da`wah Wal Irsyad (DDI), yaitu sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan. Dalam pertemuan itu, Ag. H. Ambo Dalle dipilih menjadi ketua, dan Anregurutta H. M. Abduh Pabbajah menjadi sekretarisnya. Sejak itulah, MAI Mangkoso dan seluruh cabangnya berubah nama menjadi DDI, dan berpusat di Mangkoso.

Namun, keberadaan Mangkoso sebagai pusat organisasi lambat laun menjadi kurang strategis dalam melakukan koordinasi dengan cabang-cabang DDI yang tersebar di pelbagai penjuru. Pada saat yang bersamaan, Ag. H. Ambo Dalle mendapat tawaran dari pemerintah Swaparaja Mallusetasi Pare-Pare untuk menjadi kadhi Mallusetasi. Gayung bersambut, beliau pun menerima tawaran tersebut dengan alasan ingin memajukan organisasi dan perguruan yang dipimpinnya. Sejak itulah, beliau harus bolak balik antara Mangkoso dan Pare-Pare dengan mengayuh sepeda ontel sejauh 70 km, karena di samping sebagai kadhi di Pare-Pare, beliau juga harus mengajar dan mengurus organisasi yang dipimpinnya di Mangkoso.

Pada tahun 1950, Ag. H. Ambo Dalle Ambo Dalle memutuskan untuk pindah ke Kota Pare-Pare dan menetapkan kota tersebut sebagai pusat oraganasi DDI. Selain alasan strategis, beliau memilih pindah ke Kota Madya Pare-Pare, karena mendapat sokongan dari pemerintah Mallusetatasi berupa sumbangan fasilitas gedung yang cukup representatif, terletak di sebelah selatan Masjid Raya. Di kota terbesar kedua setelah Makassar di Sulawesi Selatan itu, Ag. H. Ambo Dalle semakin meneguhkan sepak terjangnya dalam menegakkan agama Islam lewat media pendidikan. Beliau membangun rumah dan sebuah perguruan di Ujung Baru dan Ujung Lare. Kemudian beliau menetapkan Muktamar sebagai institusi tertinggi organiasi yang dilaksanakan dua tahun sekali. Beliau juga mendirikan badan-badan otonom untuk pengembangan organisasi, di antaranya Fityanud Da`wah wal Irsyad (FIDI) yang bergerak di bidang kepanduan dan kepemudaan, Fatayat Darud Da`wah wal Irsyad (FADI) untuk kaum putri dan pemudi, dan Ummahatud Da`wah wal Irsyad (Ummahat) bagi kaum ibu. Pada tahun 1954, beliau diangkat menjadi Kepala Kantor Urusan Agama Pare-Pare, menggantikan K.H. Zainuddin Daeng Mabunga. (http://darisrajih.wordpress.com).

Sepak terjang Ag. H. Ambo Dalle dalam berjuang mengembangkan agama Islam tidak selalu berjalan dengan mulus. Pada tahun 1955, beliau ditangkap oleh gerombolan seperatis DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar di Desa Belang-Belang, Kabupaten Maros. Dengan pengawalan yang sangat ketat, beliau dibawa masuk ke dalam hutan untuk dijadikan penasehat spiritual Kahar Muzakkar. Selama lebih kurang delapan tahun berada di hutan, beliau tetap konsisten melanjutkan misi pendidikan Islam sebagaimana yang telah dicita-citakannya sejak kecil. Beliau senantiasa memberi pengajian kepada para gerilyawan dan keluarganya. Beliau juga pernah diangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Presiden DI/TII ketika Kahar Muzakkar sedang mengadakan gerilyawan ke luar hutan. Sebagai ulama beraliran ahlussunnah wal jamaah, beliau sering mengalami konflik pemahaman dengan sebagian gerilyawan yang bermazhab wahabi. Bahkan, beliau pernah berbeda ideologi khususnya pada penafsiran pemahaman agama dengan K. H. Maksum yang beraliran dzahiri, seorang ulama dan guru Kahar Muzakkar dari Solo, Jawa Tengah (Anshoriy, 2009: 97-102).

Pada tahun 1963, TNI Sulawesi Selatan di bawah komando Brigjen M. Jusuf melancarkan Operasi Kilat terhadap gerombolan Kahar Muzakkar sehingga kekuatan mereka kian lemah dan terpecah. Ag. H. Ambo Dalle yang luput dari pengawalan mereka tidak menyia-menyiakan kesempatan itu. Beliau segera mencari kontak dengan pasukan TNI dan akhirnya bertemu dengan A. Patonangi yang memimpin Operasi Kilat saat itu. Setelah itu beliau dibawa menghadap Panglima Kodam XIV Hasanuddin, Brigjen M. Yusuf.

Pada tahun 1965, Ag. H. Ambo Dalle dipilih kembali sebagai ketua umum Pengurus Besar DDI dalam Muktamar DDI ke-10 di Makassar. Selang beberapa tahun kemudian, organisasi DDI kembali dihadapkan pada masalah-masalah internal, mulai dari persoalan yang menyangkut penyempurnaan lambang DDI hingga ke persoalan politik. Pada Pemilu 1971, organisasi DDI dihadapkan pada persoalan pelik, apakah tetap konsisten dengan sikap independen atau terlibat dalam politik praktis. Dalam situasi tersebut, Ag. H. Ambo Dalle dengan sigap mengeluarkan kebijakan bahwa para anggota organisasi boleh terlibat dalam politik praktis asalkan tidak membawa nama DDI. Bahkan, beliau sendiri memilih partai Partai Sarikat Islam Indonesia (PSSI) sebagai penyaluran aspirasi politiknya. Sementara beberapa tokoh DDI yang tidak sama idenya dengan beliau memilih partai Nahdatul Ulama (NU) dan Golongan Karya (Golkar). Sejak itu, organisasi DDI mengalami keretakan hingga ke Pemilu berikutnya.

Pada pemilu 1977, situasi dalam organisasi DDI semakin memanas, karena Ag. H. Ambo Dalle memutuskan pindah ke Partai Golongan Karya, dengan alasan ingin menyelamatkan organisasi, di samping sebagai hasil dari shalat istikharah. Rupanya, tindakan politik beliau menuai kontroversi dari beberapa kawan seangkatannya (termasuk Anregurutta H. M. Abduh Pabbajah), di samping membawa dampak yang cukup parah. Jumlah santri beliau yang belajar di pesantren Ujung Lare dan Ujung Baru, Pare-Pare, mengalami penurunan sangat drastis, dan terjadi kerenggangan komunikasi antara Pengurus Besar DDI dengan cabang-cabangnya (Anshoriy, 2009: 125-126).

Meskipun demikian, Ag. H. Ambo Dalle tetap konsisten pada pendiriannya dengan melihat kenyataan yang ada. Partai Golkar di bawah naungan pemerintah rezim Orde Baru pada saat itu selalu bersikap represif terhadap sesuatu yang berbau Islam. Bagi beliau, dengan masuknya beliau Partai Golkar, organisasi DDI mampu melestarikan dirinya pada masa-masa selanjutnya (Anshoriy, 2009: 133). Terbukti ketika beliau pindah ke Kaballangan, Kabupaten Pinrang pada tahun 1978, pesantren putra yang didirikannya atas bantuan Bupati Pinrang (A. Patonangi) senantiasa mendapat kunjungan serta sumbangan dari para pejabat, sipil dan militer, baik dari provinsi maupun pusat (http://darisrajih.wordpress.com). Demikian Ag. H. Ambo Dalle dalam mewujudkan cita-citanya senatiasa menjalin hubungan yang harmonis dan bekerjasama dengan para penguasa, baik sipil maupun militer. Beliau berprinsip bahwa antara pemerintah dan ulama harus saling menguatkan dan bahu membahu. Keduanya merupakan dwitunggal yang mutlak diperlukan dalam tatanan hidup berbangsa dan bernegara, sehingga umat akan selamat sentosa, lahir dan batin.

Sebelum tutup usia pada 29 November 1996 di Makassar dan dimakamkan di samping Masjid Jami` Mangkoso, Ag. H. Ambo Dalle pernah menduduki beberapa jabatan penting, di antaranya sebagai anggota MPR dan penasehat Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat. Kedua jabatan tersebut masih beliau pegang hingga usia 80 tahun. Bahkan dalam usianya yang sudah mulai uzur, beliau masih sempat mengunjungi Kota Mekah untuk melakukan umrah dan menghadiri undangan Raja Sarawak di Malaysia Timur. Demikianlah sosok ulama yang telah melalui pelbagai zaman dalam berjuang mengembangkan agama Islam. Meskipun dalam usia senja, tetapi dengan semangat pengabdian yang tinggi beliau tetap tampil sebagai sosok yang selalu tegar dan tegas dalam menghadapi segala tantangan dan rintangan setiap zaman yang dilaluinya.

2. Pemikiran

a. Tasawuf dan Aqidah

Ag. H. Ambo Dalle lahir dan dibesarkan di lingkungan masyarakat Bugis yang masih diliputi oleh kesuraman aqidah dan dangkalnya pemahaman tentang ajaran Islam. Sebagai dari mereka pada saat itu masih menganut adat istiadat dan tradisi lokal yang merupakan kepercayaan asli nenek moyang mereka (Nurhayati Djamas, 1998: 1). Kondisi demikian mengundang rasa prihatin dan memunculkan hasrat beliau untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat kembali ke jalan yang benar. Maka, langkah pertama yang beliau lakukan adalah menempa batinnya dengan olah rohani untuk menjadi pribadi yang matang, mengkaji pelbagai ilmu pengetahuan agama, seperti tasawuf, mantiq (logika), tafsir, teologi, ilmu hadis, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan modern, seperti filsafat, pendidikan, dan psikologi tidak luput dari pengkajiannya. Pengetahuan yang telah diperolehnya tersebut kemudian dituangkan ke dalam bentuk karya berupa kitab-kitab, di samping juga diajarkan langsung kepada masyarakat melalui jalan dakwah.

Ag. H. Ambo Dalle lebih banyak menguraikan masalah-masalah kesufian dalam karya-karyanya. Dalam kitabnya Al-Qualus Shadiq fi Ma`rifatil Khalaiq, beliau memparkan tentang perkataan benar dalam mengenali dan tata cara mengabdi kepada Allah SWT. Menurut beliau, manusia hanya dapat mengenal Allah jika mereka mengenal hakikat tentang dirinya. Untuk mengagungkan Allah, manusia tidak hanya berbekal akal logika saja, tetapi dengan melakukan zikir yang benar sebagai perantara untuk mencapai makrifat kepada Allah. Meski demikian, logika tetap harus digunakan untuk memikirkan alam semesta sebagai ciptaan Allah. Zikir yang baik adalah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah, serta hati harus istiqomah dan tidak boleh goyah. Selain itu, beliau menguraikan persoalan-soalan aqidah dalam  kitabnya Ar Risalah Al Bahiyyah fil Aqail Islamiyah yang terdiri dari tiga jilid (http://www.nu.or.id/).

Sebagai ulama yang hidup dalam kultur Bugis, Ag. H. Ambo Dalle  tidak serta merta menggantikan sistem nilai dan tatatan yang telah ada—selama norma adat tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Islam—akan tetapi mengakomodasikannya ke dalam Islam. Menurut H. Jamaludin, beliau sangat peduli pada akar tradisi yang telah membesarkannya. Melalui ceramah dan khutbah-khutbahnya, beliau senantiasa menyesuaikannya dengan konteks zaman dan tetap memelihara adat Bugis (Anshoriy, 2009: 162). Hal ini sesuai dengan motto yang sering diajarkan di pesantren, “al-mukhafadhatu ala-alqadimisshalih wa-alakhdu bil jadidi al-aslah” (memelihara yang lama dan mengadopsi yang baru dan baik).

b. Pendidikan

Dapat dikatakan bahwa Ag. H. Ambo Dalle menghabiskan waktu sepanjang hidupnya di dunia pendidikan, dan berupaya untuk membenahi pola pikir masyarakat Sulawesi Selatan yang terbelenggu kemelaratan, kebodohan, dan keterbelakangan. Berkat kerja keras dan komitmen dengan dilandasi semangat pengabdian yang tinggi, beliau telah merintis sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan bernama Darud Da`wah wal Irsyad (DDI). Sejak awal itulah beliau berkomitmen akan menciptakan masyarakat yang berilmu melalui organisasi DDI. “Melalui DDI kita akan ciptakan masyarakat berilmu,” ujar Ag. H. Ambo Dalle  (Anshoriy, 2009: 164).

Menurut beliau, ilmu sangat penting dalam menopang kehidupan manusia. Ilmu dapat memberikan kesejahteraan dan mengangkat harkat dan martabat manusia. “Bagi saya ilmu itu sangat penting dan mutlak diperlukan bagi kehidupan. Tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu lain seperti hukum, politik, sosial, dan sebagainya,” tegas Ag. H. Ambo Dalle (Anshoriy, 2009: 164). Maka sebagai figur yang cukup berpengaruh di dalam masyarakat, beliau selalu bergerak membuat program dan melakukan inovasi dalam bidang pendidikan untuk menciptakan masyarakat yang bermartabat.

Berkat jerih payah dan komitmen yang begitu tinggi, serta kecerdikannya menyiasati pelbagai dinamika zaman, Ag. H. Ambo Dalle telah menorehkan prestasi yang gemilang dalam memperbaharui jalannya sejarah pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan. Melalui organisasi DDI, beliau telah mendirikan ribuan lembaga pendidikan dan melahirkan kader ulama, cendekiawan, birokrat, serta pengusaha. Tercatat sekitar 1.225 buah sekolah dan madrasah, mulai tingkatan Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas atau Aliyah, yang tersebar di 14 provinsi di Indonesia (Anshoriy, 2009: 160). Bahkan, organisasi DDI memiliki sebuah cabang di Negeri Johor, Malaysia, bernama Madrasah Arabiah Bugisiyah, didirikan atas prakarsa Kyai Mahmud Fasih, salah seorang tokoh DDI yang pernah berdakwah ke daerah itu (http://www.ujanailmu.com.my). 

3. Karya-karya

Selain karya monumentalnya yang berupa pendirian organisasi DDI, Ag. H. Ambo Dalle menghasilkan karya dalam bentuk tulisan. Beliau telah menulis sedikitnya 25 judul buku yang membahas berbagai cabang ilmu pengetahuan, seperti aqidah, syariah, akhlak, mantik, balagha, dan sastra, yaitu antara lain:

  • Al-Qaul al-Sadiq Fi Makrifah al-Khlaiq (tasawuf)
  • Maziyyah Ahli Sunnah Wa al-Jamaah dan Ar-Risalah Al-Baiyyah fil Aqail Islamiyah (aqidah)
  • Tanwiru Thalib, Tanriru Thullab, Irsyadut Thullab, Sullamu Lughah (bahasa Arab dan ushul-ushulnya)
  • Ahsnul Aslubi wa-Siyaqah, Namuzajul Insya`I (balagha)
  • Irsyadul Salih (syarah atas bait-bait kaidah ilmu nahwu)
  • Miftahul Mazakarah (pedoman berdiskusi dalam bahasa Arab)
  • Miftahul Fuhum fil Mi`yarif Ulum (mantiq/logika)
  • Syifa Al-Afidah Min Al-Tasyaum wa Al-Tiyarah
  • Rabbi J`alni Mukima al-Salah Fi Bayani Ahkam
  • Wa Hikam al-Salah.

4. Penghargaan

Melalui pengabdian dan perjuangan nyata yang telah ditorehkan dalam bidang pendidikan, Ag. H. Ambo Dalle banyak menerima penghargaan dari pemerintah maupun lembaga pendidikan, di antaranya:

  • Tanda kehormatan Bintang MAHAPUTRA NARARYA dari Presdin B.J. Habibie, tahun 1999.
  • Penghargaan dari Pemerintah Daerah Tk. II Wajo sebagai PUTRA DAERAH BERPRESTASI, 1998.
  • Penghargaan dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar sebagai TOKOH PENDIDIK BIDANG AGAMA SE INDONESIA TIMUR, 1986.

(Samsuni/tkh/180/12-09)

Referensi

  • Nasruddin Anshoriy. 2009. Anrégurutta Ambo Dalle: maha guru dari bumi Bugis. Yogyakarta: Tiara Wacana.
  • Nurhayati Djamas. 1998. Agama orang Bugis. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Departemen Agama RI.

Artikel dari Internet



[1] Anregurutta atau disingkat Ag. berasal dari bahasa Bugis yang berarti guru besar kita. Pemberian gelar Anregurutta bukanlah pemberian gelar akademik, melainkan pengakuan yang timbul dari masyarakat atas ketinggian ilmu, pengabdian, dan jasanya dalam dakwah keislaman. Di samping itu, pemberian gelar ini dilakukan untuk menunjukkan lokalitasnya, seperti halnya di Aceh dengan sebutan Tengku (Tgk.), dan di Jawa dengan panggilan Kyai.

Dibaca : 3.670 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password