Sabtu, 25 Oktober 2014   |   Ahad, 1 Muharam 1436 H
Pengunjung Online : 679
Hari ini : 2.645
Kemarin : 21.567
Minggu kemarin : 160.551
Bulan kemarin : 802.699
Anda pengunjung ke 97.269.202
Sejak 01 Muharam 1428
( 20 Januari 2007 )
IMAGE GALLERY
AGENDA
  • Belum ada data - dalam proses

 

Tokoh Melayu

01. H. Tenas Effendy, Doktor (HC)

a:3:{s:3:

1. Riwayat Hidup

Tengku Nasaruddin Said Effendy atau yang lebih dikenal dengan Tenas Effendy, dilahirkan pada 9 November 1936 di Dusun Tanjung Malim, Desa Kuala Panduk, Pelalawan. Tengku Nasaruddin Said Effendy adalah nama pemberian dari ayahnya, Tengku Said Umar Muhammad. Sementara ibunya, Tengku Sarifah Azamah juga memberi Tenas dengan nama Tengku Nasrun Said Effendy. Ayahnya adalah sekretaris pribadi Sultan Said Hasyim, Sultan Pelalawan ke-8 waktu itu. Ayahnya selalu menulis mengenai semua silsilah Kerajaan Pelalawan, adat-istiadat, dan peristiwa penting lainnya dalam sebuah buku yang dinamakan Buku Gajah. Setelah Sultan Said Hasyim mangkat pada tahun 1930, T. Said Umar Muhammad dan keluarga pindah dari Pelalawan ke Kuala Panduk dan menjalani aktivitas seperti masyarakat lainnya. Di Kuala Panduk T. Said Umar Muhammad diangkat sebagai Penghulu sekaligus sebagai guru agama yang pertama dan guru sekolah desa.

Masa kecil T. Nasaruddin Effendy dihabiskan dengan mengikuti ayahnya berladang padi, hingga T. Nasaruddin Effendy sejak kecil paham betul kegiatan berladang yang dilakukan ayahnya dan masyarakat desanya sehari-hari. Selain itu, beragam peristiwa dan aktivitas kebudayaan yang dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya dapat disaksikan langsung oleh Tenas, seperti upacara penabalan Sultan Said Harun, upacara menuba ikan yaitu sebuah ritual yang juga sarat dengan adat, upacara mengambil madu yang sarat dengan magis dan kental dengan ritual kebudayaan asli, dan berbagai aktivitas budaya lainnya. Kebiasaan dalam mendengar, melihat dan mengamati berbagai khasanah budaya ini secara berangsur-angsur membuat Tenas mampu menyerap berbagai unsur budaya tersebut dan terpatri sangat mendalam dalam kehidupannya. Kendati belum memahami benar, namun kebiasaan masyarakat dengan beragam aktivitas kebudayaannya itu telah membentuk pandangan Tenas mengenai kebudayaan Melayu yang Islami.

Setelah berumur 6 tahun, Tenas mulai masuk Sekolah Agama dan Sekolah Rakyat yang ada di kampungnya. Di Sekolah Agama Tenas mendapat pendidikan dari ayahnya sebagai guru agama, sedangkan di Sekolah Rakyat Tenas mendapat pelajaran dari gurunya (Alm) T. Said Hamzah. Jika sekolah agama dilakukannya di masjid bersama teman-temannya, sekolah umum dilakukannya di sekolah yang sangat sederhana, dengan duduk beralaskan tikar. Alat tulis yang digunakan pun hanya dari batu yang disebut dengan papan batu. Kegiatan belajar tidak hanya dilakukan di sekolah maupun di masjid, tetapi di ladang, di pokok-pokok getah dan di tepi sungai.

Pada zaman pendudukan Jepang, tentara Jepang yang berada di Pelalawan selalu datang ke kampung-kampung, tak terkecuali Kuala Panduk untuk mencabut padi-padi yang ditanam masyarakat. Kondisi ini jelas menyebabkan hasil pertanian menurun drastis, persediaan pangan yang biasanya disimpan di pondok-pondok ladang dirampas oleh tentara Jepang dan kaki tangannya. Untuk mengatasi penderitaan masyarakat karena perlakuan tentara Jepang dan kaki tangannya, pihak istana mengeluarkan seruan untuk menyimpan padi-padi ke tengah hutan, agar tidak dirampas oleh Jepang. Sebagai penghulu waktu itu, T. Said Umar Muhammad tidak henti-hentinya menghimbau warga kampung untuk melaksanakan seruan istana, yaitu tidak menyerahkan hasil pertaniannya kepada Jepang. Karena aktivitasnya ini, sering kali Tengku Said Umar Muhammad harus mendapat ancaman pihak Jepang, dan beberapa kali akan ditangkap, namun nasib baik masih berpihak kepadanya. Pada akhir revolusi kemerdekaan pada tahun 1949, keluarga Tenas pindah ke Pelalawan.

Tahun 1950, Tenas menamatkan sekolah di Sekolah Rakyat di Pelalawan. Setelah itu ia melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru B (SG B) di Bengkalis. Tidak banyak kegiatan yang dilakukannya selama menuntut ilmu di Bengkalis. Hanya sekali-sekali Tenas mencoba menulis kemudian dikirim ke berbagai akbar yang ada di Medan. Selain itu Tenas giat mengikuti latihan pandu Hisbulwathan yang dipimpin oleh Dt. Adham. Setelah 3 tahun menempuh pendidikan di Bengkalis, Tenas melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Guru A di Padang.

Selama mengikuti pendidikan di Padang, banyak sekali kegiatan yang dilakukan oleh Tenas. Dasar menulis yang diperolehnya selama pendidikan di Bengkalis diteruskannya selama di Padang. Dengan kemampuan yang dimilikinya Tenas sering mengikuti berbagai acara kesenian berupa pembacaan puisi dan sering mengisi acara karya budaya yang disiarkan oleh RRI Padang. Aktivitas organisasi pun tak luput dari perhatiannya di samping terus menulis dan berkesenian. Sebuah organisasi bernama SEMI (Seniman Muda Indonesia) adalah organisasi pertama yang dimasukinya, dan ia diberi kepercayaan sebagai salah seorang Ketua Cabang Padang bersama SB. Jass, di organisasi yang berpusat di Bukit Tinggi ini. Bersama teman-temannya di antaranya Salius (salah seorang Pendiri Harian Singgalang) memprakarsai berdirinya Himpunan Seniman Muda Padang. Melalui organisasi ini berbagai aktivitas dilakukan mulai dari pementasan drama, teater, seni suara, musik, puisi dan menulis yang tidak pernah ditinggalkannya. Pementasan drama yang berjudul “Titik-titik Hitam” karya Nasyah Jamin adalah salah satu kegiatan yang masih dapat diingat olehnya, di samping drama lain buah karyanya sediri. Setelah 3 tahun di Padang, Tenas menyelesaikan pendidikannya yaitu tahun 1957.

Tahun 1958 Tenas pindah ke Riau (Pekanbaru), aktivitas menulisnya terus dilakukan, begitu juga kegiatan berkesenian. Bersama Muslim Saleh, Tenas mengadakan pameran lukisan di Rumbai tahun 1959. Ini merupakan kegiatan pameran pertama yang dilaksanakan di Riau waktu itu. Tahun 1960 Tenas sempat mengajar di salah satu sekolah di Siak, namun panggilan dan jiwa seni mengantarkannya kembali ke Pekanbaru untuk terus melakukan berbagai aktivitas berkesenian dan terus aktif menulis karya-karya sastra. Selain aktivitas seni, penerbitan buku-buku tentang kebudayaan Riau juga mulai dilakukan antara tahun 1968-1970. Tenas sendiri menulis buku “Lancang Kuning, Kubu Terakhir” (novel). Sedangkan Umar Ahmad Tambusai menulis “Tuanku Tambusai, Pancang Jermal”, juga Wan Saleh Tamin menulis buku “Lintasan Sejarah Rokan”.


Pada tahun 1968, Tenas memulai aktivitas penelitiannya dengan berbagai macam objek penelitian. Objek pertama yang diteliti adalah masyarakat suku asli (Petalangan). Selain itu, Tenas juga mulai melakukan berbagai kajian tentang beragam kebudayaan lain. Ia menghabiskan waktunya dalam melakukan kajian di hampir seluruh pelosok Riau dan Kepulauan Riau, masuk kampung yang satu ke kampung yang lain. Bertemu dengan banyak masyarakat asli dan tempat-tempat bersejarah yang sudah punah. Tenas menghimpun pantun, ungkapan, peribahasa, perumpamaan, gurindam, bidal, ibarat, nyayian panjang sampai kepada seni bina arsitektur bangunan-bangunan tradisional.


Penyingkatan nama dari Tengku Nasaruddin Effendy menjadi Tenas Effendy pada tahun 1957, membawa manfaat baginya dalam perjalanannya melakukan penelitian ke daerah-daerah pada berbagai kalangan masyarakat tradisional. Hal ini disebabkan jika masyarakat mengetahui bahwa peneliti itu adalah seorang Tengku, maka akan ada semacam jarak (gap). Hasil-hasil penelitian ini terutama yang berkenaan dengan sastra lisan direkamnya dalam bentuk kaset yang terkumpul lebih kurang 1.500 rekaman. Dari perjalanan panjangnya berkecimpung dengan kajian kebudayaan dan aktivitasnya dalam menulis, Tenas berhasil mengumpulkan lebih kurang 20.000 ungkapan, 10.000 pantun dan tulisan-tulisan lain mengenai kebudayaan Melayu. Kepiawaiannya dalam menulis dan pengetahuannya yang mendalam tentang kebudayaan menarik minat banyak institusi untuk berbagi pemikiran dalam berbagai seminar, simposium, dan lokakarya, mulai dari Malaysia, Singapura, Brunei sampai ke Belanda.


Pada tanggal 7 Februari 1970, Tenas menikah dengan Tengku Zahara binti Tengku Long Mahmud. Dari perkawinannya tersebut telah dikarunia 3 orang putra dan 4 orang putri yaitu T. Hidayati Effiza, T. Fitra Effendy. T. Ekarina, T. Nuraini, T. Taufik Effendy, T. Ahmad Ilham, dan T. Indra Effendy. Kendati telah menikah dan mempunyai anak, aktivitas berkesenian Tenas tidaklah surut di samping bekerja sebagai redaktur di mingguan "Canang" dan "Sinar Masa". Beruntunglah Tenas karena memiliki istri yang paham akan aktivitasnya dan selalu memberi dukungan moril dan semangat kepadanya. Pengertian ini Tenas rasakan sejak aktifnya ia melakukan kajian yang mengharuskannya pergi sampai berbulan-bulan ke beberapa pelosok kampung, hingga sampai sekarang. Istri dan keluarganya selalu memberi dukungan dan semangat. Kepada anak-anaknya Tenas selalu mengatakan jika suatu saat ajal menjemputnya, maka bukan harta yang ditinggalkannya tetapi kekayaan berupa buku-buku dan bahan-bahan tentang adat istiadat dan kebudayaan Melayu Riau. Ia berharap mereka dapat membaca, memahami, melihat dan menyimak berbagai khasanah kebudayan Melayu itu dan mengamalkannya dalam kehidupannya.

Dari dulu hingga sekarang Tenas masih aktif dalam berbagai organisasi. Keaktifannya dalam mengikuti berbagai organisasi menyebabkan ia mendapat kepercayaan dan posisi penting dalam organisasi tersebut. Adapun posisi atau jabatan penting yang pernah dipegangnya, antara lain:

  • Ketua Umum Lembaga Adat Melayu Riau (2000 – 2005)
  • Ketua Dewan Pembina Lembaga Adat Pelalawan (2000 – Sekarang)
  • Pembina Lembaga Adat Petalangan (1982 – Sekarang)
  • Pengurus Dewan Kesenian Riau.
  • Pengurus Pondok Seni Rupa Riau (1960 – 1968).
  • Pengurus Masyarakat Sejarawan Indonesia Riau (1974 – Sekarang).
  • Pengurus Badan Pembina Kesenian Daerah Riau (1968 – 1978).
  • Pengurus Lembaga Karya Budaya Riau (1960 – 1965).
  • Penasehat Paguyuban Masyarakat Riau (2001 – Sekarang).
  • Memimpin Yayasan Setanggi Riau (1986 – Sekarang).
  • Memimpin Yayasan Serindit (2001 – Sekarang).
  • Pembina/Penasehat berbagai organisasi sosial, kemasyarakat dan budaya Di Propinsi Riau.
2. Pengaruh / Pemikiran

Sumbangan pemikiran Tenas Effendy di dunia kemelayuan banyak memberikan sumbangan positif bagi orang-orang Melayu. Pemikiran-pemikiran Tenas Effendy mengenai Melayu yaitu di antaranya:

1.
Bahwa untuk menghadapi masa depan, yang penuh cabaran dan tantangan diperlukan budaya yang tangguh untuk melandasi sikap dan perilaku masyarakat pendukungnya agar menjadi manusia tangguh. Oleh karena itu, budaya Melayu yang memiliki nilai-nilai luhur yang Islami yang sudah teruji kehandalannya, harus dikekalkan dengan menjadikannya sebagai “jatidiri” bagi masyarakatnya. Nilai-nilai budaya ini diyakini mampu mengangkat marwah, harkat dan martabat kemelayuan dalam arti luas. Di dalam resam Melayu, nilai-nilai yang dimaksud dipaterikan ke dalam ungkapan-ungkapan adat, yang disebut sebagai “Sifat yang Duapuluh Lima”, atau “pakaian yang Duapuluh Lima”. Jika sifat atau pakaian itu dijadikan sebagai “jatidiri” , tentu akan menjadi “orang” yang “sempurna” lahiriah dan batiniah.
2. 
Bahwa untuk menjaga nilai kegotoroyongan, nilai tenggang rasa, dan nilai keberasamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, maka yang perlu dilakukakan adalah menjaga nilai-nilai asas persebatian Melayu (Perekat Kehidupan Bermasyaraka, Berbangsa dan Bernegara). Hal ini selaras dengan ungkapan adat Melaya yang mengatakan: “Hidup sebanjar ajar mengajar, hidup sedusun tuntun menuntun, hidup sekampung tolong-menolong, hidup senegeri beri memberi, hidup sebangsa rasa merasa”

Pengaruh pemikiran Tenas Effendy tidak hanya di Indonesia saja, tapi juga meliputi wilayah Asia Tenggara, khususnya negara-negara tetangga yang dihuni oleh sebagian orang-orang Melayu, seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand.

3. Karya Tulis

Karya-karya Tenas Effendy yang ditulis dalam buku-buku yang diterbitkan di dalam  dan di luar negeri, antara lain:
  1. Ragam Pantun Melayu (Pekanbaru, 1985)
  2. Nyanyian Budak dalam Kehidupan Orang Melayu (Pekanbaru, 1986)
  3. Nyanyian Panjang Sastra Lisan Orang Petalangan (Buku I, II, III, IV, dan V Pekanbaru, 1998)
  4. Menumbai: Upacara Tradisional Mengambil Madu Lebah di Daerah Riau (Pekanbaru, 1989)
  5. Ungkapan Tradisional Melayu Riau  (Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 1989)
  6. Adat Istiadat dan Upacara Perkawinan di Bekas Kerajaan Pelalawan (Pekanbaru, 1990)
  7. Kelakar Dalam Pantun Melayu (Pekanbaru, 1990)
  8. Tunjuk Ajar dalam Pantun Melayu  (Pekanbaru, 1990)
  9. Pakaian Adat Melayu Riau dan Filosofi yang terkandung Didalamnya (Pekanbaru, 1992)
  10. Nyanyian Panjang : Sastra Lisan Orang Petalangan Riau yang berkaitan dengan Kesejarahan atau Tambo Pesukuan dan Hutan Tanah Wilayatnya  (Pekanbaru,1993)
  11. Sastra Lisan Daerah Riau yang mengandung Nilai Kegotongroyongan dan Tenggang Rasa. (Pekanbaru, 1993)
  12. Pantun Sebagai Media Dakwah dan Tunjuk Ajar Melayu (Pekanbaru, 1993)
  13. Kumpulan Ungkapan Melayu Riau. (Pekanbaru, 1994)
  14. Tunjuk Ajar Melayu, Butir-Butir Budaya Melayu Riau (Dewan Kesenian Riau, Pekanbaru, 1994)
  15. Kebudayaan Melayu Riau dan Permasalahannya (Pekanbaru, 1994)
  16. Lancang Kuning dalam Mitos Melayu Riau. (Pekanbaru, 1970)
  17. Seni Ukir Daerah Riau (Pekanbaru, 1970)
  18. Kesenian Riau (Pekanbaru, 1971)
  19. Syair Perang Siak, Versi Siak dan Pelalawan (Pekanbaru, 1971)
  20. Hulu balang Canang (Pekanbaru, 1972)
  21. Kubu Terakhir, Perjuangan Rakyat Riau Melawan Portugis (Pekanbaru, 1973)
  22. Kelakar Dalam Pantun Melayu (Pekanbaru, 1988)
  23. Silsilah Raja-Raja Melayu di Kerajaan Johor, Riau Lingga dan Pahang (Pekanbaru, 1990)
  24. Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu (Pekanbaru, 1990)
  25. Pandangan Orang Melayu Terhadap Anak (Pekanbaru, 1989)
  26. The Orang Petalangan Of Riau And Their Forest Environment. Tenas Effendy (International Institute For Asian Studies,The Netherlands, 2002)
  27. Lambang-Lambang Dalam Seni Bangunan Tradisional : Refleksi Nilai Budaya Melayu (Tanjung Pinang, 1986)
  28. Bujang Tan Domang (Ecole Francaised Exfremi Orient The Toyota Fondation Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1997)
  29. Ejekan Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau (Pekanbaru, 1994/1995)
  30. Bela Pelihara Anak (Universitas Islam Riau Press, Pekanbaru, 2002)
  31. Syair Nasib Melayu (Singapore, 2002)
  32. Ungkapan Tradisional Daerah Riau Yang Berkaitan Dengan Pembangunan (Pekanbaru, 1989)
  33. Cerita Rakyat Dari Indragiri Hilir (Pekanbaru, 1990)
  34. Banjir Darah di Mempusun (Pekanbaru, 1970)
  35. Tenunan Siak (Pekanbaru, 1971)
  36. Datuk Pawang Perkasa (Pekanbaru, 1973)
  37. Raja Indra Pahlawan (Pekanbaru, 1970)
  38. Lintasan Sejarah Kerajaan Siak (Pekanbaru, 1981)
  39. Hang Nadim (Pekanbaru, 1982)
  40. Lambang dan Falsafah dalam Arsitektur Tradisional dan Ragam Hias Daerah Riau (1986)
  41. Cerita-Cerita Rakyat Daerah Riau (Pekanbaru, 1987)
  42. Bujang Si Undang (Pekanbaru, 1988)
  43. Sutan Peminggir (Pekanbaru, 1988)
  44. Upacara Tepung Tawar (Pekanbaru, 1968)
  45. Orang Talang Di Riau (Pekanbaru, 1994)
  46. Selayang pandang Tentang Nibung dan Serindit (Pekanbaru, 1991)
  47. Lambang dan Falsafah dalam Pakaian Adat Melayu Riau. (Pekanbaru, 1987)
  48. Khasanah Pantun Adat Melayu (Pekanbaru, 1986)
  49. Kubu Terakhir. (Pekanbaru, 1980)
  50. Zapin di Kerajaan Pelalawan (Pekanbaru, 1996)
  51. Marwah Johor Di Kerajaan Pelalawan (Pekanbaru, 1995)
  52. Upacara Mandi Air Jejak Tanah Petalangan (Pekanbaru, 1984)
  53. Upacara Menumbai Di Pohon Sialang (Pekanbaru, 1982)
  54. Bermain Bono di Sungai Kampar (Pekanbaru, 1984)
  55. Adat Berladang di Kerajaan Pelalawan (Pekanbaru, 1984)
  56. Persebatian Melayu (Pekanbaru, 1989)
  57. Tak Melayu Hilang Di Bumi (Pekanbaru, 1980)
  58. Upacara Besolang Simbol Kegotongroyongan Orang Melayu (Pekanbaru, 1978)
  59. Dari Pekantua Ke Pelalawan (Lintasan Sejarah Kerajaan Pelalawan, Pekanbaru, 1987)
  60. Pamakaian Ungkapan dalam Upacara Perkawinan Orang Melayu (Melaka, Malaysia, 1999)
  61. Tunjuk Ajar Petuah Orang Tua-tua (Universitas Lancang Kuning Pekanbaru, 1995)
  62. Sultan Mahmud Syah I (Marhum Kampar) Dalam Mitos Rakyat Pelalawan (Pekanbaru, 2002)
  63. Pemakaian Ungkapan Dalam Perkawinan Melayu (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta, 2004)
  64. Tunjuk Ajar Dalam Pantun Melayu (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta, 2004)
  65. Tunjuk Ajar Melayu (Butir-Butir Melayu Riau) (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta, 2004)
  66. Pantun Nasehat (Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, Yogyakarta, 2005)
Karya-karya Effendy dalam bentuk Kertas Kerja ketika mengikuti seminar dan berbagai pertemuan mengenai kebudayaan Melayu di dalam dan di luar negeri (Malaysia, Singapura, Brunei, Belanda, Thailand, dll), yaitu sebagai berikut:
  1. Dara Dalam Budaya Melayu.
  2. Peranan Adat dan Kelembagaan Adat Melayu Dalam Merekat Persebatian Masyarakat Riau.
  3. Jender Dalam Adat dan Budaya Melayu.
  4. Norma Masyarakat Hukum Adat Melayu Terhadap Pelestarian Hutan.
  5. Nilai-Nilai Azas Suilaturahmi Dalam Budaya Melayu.
  6. Nilai-Nilai Azas “Jati Diri” Melayu Yang Islami.
  7. Jantan Dalam Budaya Melayu Riau.
  8. Tunjuk Ajar Petuah Orang Tua-Tua.
  9. Syair Nasib Melayu.
  10. Pantun Kelakar (Diangkat Dari Khazanah Pantun Melayu).
  11. “JATI DIRI” Belia Dalam Tamadun Melayu.
  12. Niali-Nilai Azas Persebatian Melayu (Perekat Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa da Bernegara).
  13. Pantun Berkasih Sayang (Diangkat Dari Khazanah Pantun Melayu).
  14. Simak Ulang Tafsiran Ungkapan Melayu Dalam Perubahan Zaman.
  15. Budaya Melayu Sebagai Perekat Persebatian Bangsa.
  16. Pantun Adat (Diangkat Dari Khazanah Pantun Melayu).
  17. Pantun Petalangan ( Diangkat Dari Khazanah Pantun Melayu).
  18. Peribahasa  Dalam Kehidupan Orang Melayu.
  19. Penggunaan Pantun Dalam Adat Istiadat Melayu Riau
  20. Nilai-Nilai Azas Silaturahmi Dalam Budaya Melayu
  21. Kebudayaan Sebagai Jatidiri dan Simpai Persebatian Melayu Serumpun.
  22. Catatan Singkat Tentang: Peranan Syaid Osman Syahbuddin  Di Kerajaan Siak Sri Inderapura.
  23. Kedudukan Adat Dalam Masyarakat.
  24. Pariwisata dan Nilai Budaya.
  25. “Silaturahmi Sejarah dan Kebudayaan Melayu Serantau”, Perlukah?
  26. Wakil  Dalam Budaya Melayu Riau.
  27. Kebudayaan Melayu Riau dan Permasalahannya.
  28. Etika Dalam Berpakaian Melayu.
  29. Catatan Tentang: Adat Istiadat Di Bekas Kerajaan Pelalawan.
  30. Perempuan Dalam Acuan Budaya Melayu
  31. Peranan Budaya Dalam Pembangunan
  32. Hutan Tanah Wilayat Masyarakat Petalangan.
  33. Pemimpin Dalam Ungkapan Melayu.
  34. Pemimpin Menurut Acuan Adat Melayu Riau.
  35. Pemakaian Ungkapan Dalam Upacara Perkawinan Orang Melayu.
  36. Lambang-Lambang Dalam Seni Bangunan Tradisional Sebagai Refleksi Nilai Budaya Melayu.
  37. Bela Pelihara Anak ( Pembentukan Generasi Muda Yang Beraklak Mulia Sebagai Sosialisasi Budaya Melayu)
  38. Mengangkat Marwah Kaum Perempuan Dalam Meningkatkan     Ketangguhannya Dalam Menghadapi Era Globalisasi.
  39. Keriteria Umum “Putera Daerah” (Dalam Budaya Melayu Riau).
  40. Syair Nasehat Perkawinan.
  41. Peribahasa Dalam Kehidupan Orang Melayu.
  42. Peri Pentingnya Amalan Adat Dalam Masyarakat Melayu.
  43. Etos Kerja Dalam Acuan Budaya Melayu Riau.
  44. Peningkatan Kompentensi SDM Ditinjau Dari Aspek Sosial Budaya.
  45. Menghayati Nilai-Nilai Azas Budaya Melayu (Peranan Adat dan Kelembagaan Adat Melayu Dalam Merekat Persebatian Masyarakat Riau).
  46. Budaya Melayu Dalam Perubahan Zaman.
  47. Ilegal Loging  Melanggar Adat Melayu Riau.
  48. Pengantar Kata Dalam Majelis.
  49. Bini  Dalam Budaya Melayu Riau.
  50. “Menumbai” (Upacara Tradisional Mengambil Madu Lebah Di Daerah Riau)
  51. Catatan Tentang: Lancang Kuning
  52. Ungkapan Adat Tentang Tanah Kampung
  53. Pemimpin dan Kepoemimpinan Melayu Riau
  54. Sejarah Singkat Masjid Raya Pekanbaru.
  55. Syair Kera
  56. Syair Nasib Melayu.
  57. Buruk Dalam Acuan Budaya Melayu.
  58. Ringkas Kisah Cik Puan Sri Bunyian.
  59. Nyanyian Budak: Dalam Kehidupan Orang Melayu Riau
  60. Flora Yang Patut Ditanam Dalam Areal MTQ Nasional XVII Di Pekanbaru Riau Tahun 1993
  61. Pembuka Kata.
  62. Pengaruh Budaya Melayu  Terhadap Pelaksanaan Pemerintahan Desa Di Riau.
  63. Gambaran Umum Tentang  "Lambang dan Falsafah Yang Terkandung Di Dalam Ragam Hias Melayu Riau".
  64. Eksistensi Adat Istiadat Kabupaten Kampar Dalam Dinamika Global.
  65. Hilang Tuah Karena Ledah.
  66. Ungkapan Tradisional Yang Lazim Dipakai Sebagai ‘Tunjuk Ajar” Dalam Sastra Lisan  Masyarakat Petalangan Riau.
  67. Islam dan Masyarakat Melayu.
  68. Menjadikan Kebudayaan Sebagai Simpai Persebatian Melayu.
  69. Peranan Lembaga Adat Dalam Pelestarian Budaya Daerah.
  70. Orang Talang dan Kebudayaannya.
  71. Pengembangan Kebudayaan dan Wisata.
  72. Azas Penyelesaian Pertikaian Perburuhan Dalam Budaya Melayu Riau.
  73. Saran Tentang Visi, Misi dan Strategi Pembangunan Kebudayaan Melayu Di Daerah Riau.
  74. Menyimak Kearifan Masyarakat Petalangan Dalam Mengelola dan  Melestarikan Alam Sekitar
  75. Pakaian Adat Melayu dan Filosofi Yang Terkandung Di Dalamnya.
  76. Etos Kerja Orang Melayu.
  77. Mengekalkan Batam Sebagai Teraju Budaya Melayu Pengakuan Adat dan Resam Melayu Sebagai Jatidiri Sebuah Negeri)
  78. Marwah Johor: Di Kerajaan Pelalawan
  79. Etika Dalam Berpakaian Melayu
  80. MARHUM KAMPAR  Dalam Mitos Rakyat Pelalawan
  81. Sekilas Tentang Kesantunan Dalam Adat dan Kesenian Melayu.
  82. Keberagaman Suku dan Budaya Sebagai Simpai Persebatian Melayu.
  83. Lintasan Sejarah: Dari Pekan Tua Ke Pelalawan.
  84. Uraian Singkat Tentang Upacara Tepung Tawar (Dalam Adat Tradisi Melayu Riau).
  85. Mengarahkan Kebudayaan Untuk “Persebatian Melayu dan Ukuwah Islamiyah”
  86. Pantun Nasehat (Kutipan Dari Khazanah Pantun Melayu)
  87. Sumbangan Fikiran: Strategi Budaya Dalam Menghadapi “Keresahan Lokal”
  88. Mengangkat Marwah Talang Mamak.
  89. Sumbangan Fikiran: Strategi Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah.
  90. Peranan Pemimpin Formal dan Informal Dalam Pengembangan Kebudayaan   Daerah.
  91. Kesadaran Sejarah, Kesadaran Sedarah.
  92. Sekilas Tentang Kesantunan  Dalam Adat dan Kesenian Melayu.
  93. Mengangkat Marwah Kaum Perempuan dan Meningkatkan Ketangguhannya  Dalam Menghadapi Era Globalisasi.
  94. Pemimpin Dalam Acuan Budaya Melayu.
  95. Pantun Perpisahan.
  96. Peranan Budaya dan Peluang Kerjasama Negeri Serumpun Dalam Mewujudkan Visi 2020.
  97. Peranan Tokoh-Tokoh Budaya  Dalam Membina dan Pengembangan Kebudayaan Daerah.
  98. Peranan Pemangku dan Pemuka Adat Dalam Masyarakat Melayu Riau.
  99. Persebatian Melayu
  100. Memelayukan Orang Melayu.
  101. Dll.
4. Penghargaan

Ada beberapa Penghargaan yang telah diterima oleh Tenas Effendy sebagai Budayawan, yaitu antara lain:

 1.
Memperoleh Gelar adat Sri Budaya Junjungan Negeri oleh Sri Mahkota Setia Negeri Bengkalis (Bupati Bengkalis, H. Syamsurizal), di Balai Adat Melayu Bengkalis.
 2. Pada tahun 1997, mendapat penghargaan dari Yayasan Sagang melalui “Anugrah Sagang 1997” dalam kategori Budayawan Terbaik.
 3. Pada 17 September 2005, memperoleh Penghargaan gelar akademis tertinggi sebagai Doktor Honoris Causa bidang persuratan atau Kesusasteraan dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
tenas effendy


Alamat sekarang:

Jalan Raya Pasir Putih, Desa Tanah Merah, Siak Hulu, Pekanbaru, 28131, Riau.
Telp. +62 761 71061

Sumber:

“Tegak Menjaga Tuah, Duduk Memelihara Marwah”: Mengenal Sosok, Pikiran dan Pengabdian H. Tenas Effendy. Makmur Hendrik, Mahyudin Al Mudra, Deni Ermanto Iddehan (Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu, 2005).

Kredit foto: www.malaycivilization.com

Komentar Tenas Effendy tentang Balai Melayu (video).

Dibaca : 51.711 kali.

Berikan komentar anda :

Silakan Login Untuk Komentar

Silakan Login atau Mendaftar terlebih dahulu jika anda belum menjadi anggota.

 Kolom untuk yang sudah menjadi member
Email
Password